Tuesday, August 5, 2014

Tak Mendapat Restu ....






Menjadi pengangguran perasaan Niken menjadi tidak karuan. Ia jadi tidak betah tinggal di rumah. Padahal sebulan yang lalu ia baru saja diwisuda. Ia melihat sebuah album kecil baru dan melihat foto wisuda dimana ia dan kedua orang tuanya berpose. Saat itu orang tuanya pasti bahagia melihatnya telah berhasil menjadi sarjana. Tetapi, sebulan berlalu, tiba-tiba
semuanya menjadi berubah. Ia jadi canggung tinggal di rumah, karena sebagai anak bungsu, ia satu-satunya anak lulusan sarjana dari empat bersaudara yang kesemuanya hanya sampai diploma. Kakak-kakaknya berhasil menjadi pegawai negeri. Bahkan telah berkeluarga dan hidup berkecukupan, sedangkan ia sekarang menjadi pengangguran.
Walau baru seminggu menganggur, rasanya seperti setahun. Ia merasa kakak-kakaknya menuntut sesuatu hasil yang lebih daripada yang mereka dapatkan. Itu terlihat dari setiap kata-kata dan nasihat yang mereka ucapkan. Belum lagi, Yanto pacarnya yang sangat tidak mereka setujui, membuat Niken pusing tujuh keliling. Bagaimana tidak, sekarang ia sudah tidak bisa lagi sembunyi-sembunyi bertemu dengannya. Segala tindak-tanduknya selalu menjadi sorotan dan yang tidak kalah memusingkan, orang tuanya selalu menuntutnya agar segera menikah pula.
Seperti pagi itu, saat Niken terlambat bangun, sarapan, dan teh panas sudah tersedia di meja makan. Ia melihat ibunya sibuk di dapur memanaskan sayur semalam. “Oalah Ken-ken, kamu bangun siang begini, bagaimana ayahmu nggak marah kalau begini terus,” ibunya menegur tanpa memandang wajah Niken, sibuk mengaduk-aduk sayur.
“Ya maaf Bu. Niken tadi malam nggak bisa tidur. Suntuk. Ibu kan tahu Niken nggak kerja-kerja sampai sekarang. Mana duit nggak pernah dikasih sekarang.”
“Duit, duit. Kamu dikasih berapa aja pasti habis. Dulu ibu kasih kan untuk biaya sekolah. Sekarang udah lulus begini mau minta juga buat apa to?” tanya ibu Niken dengan wajah heran.
“Lha ya buat ngelamar-ngelamar kerjaan. Bagaimana mau dapat kerja kalau fasilitas nggak dikasih,” sahut Niken dengan nada membela.
“Lha ya sabar, berusaha terus. Kamu nggak pernah ngelamar kerja gimana mau dapat.”
“Lho, Niken itu sudah menitipkan lamaran ke teman-teman. Juga kadang kirim kabar lewat SMS biar cepat. Begitu ada, pasti mereka kasih kabar. Makanya ibu kasih duit sama Niken, pasti Niken giat cari kerjaan.”
“Ya ibu kasih nanti, tapi paling nggak kamu juga mutar-mutar mencari lowongan di daerah sini, supaya cepat dapat kerja,” ibunya kembali memberi nasihat.
“Ah ibu kayak nggak tahu saja berapa gaji guru di daerah ini sih?” Niken membela diri. Ia tidak terima lulusan sarjana hanya dibayar kecil. Apalagi daerahnya masih termasuk wilayah terpencil.
“Ya nggak apa-apa to, daripada nganggur. Dilihat orang juga nggak jelek. Ada kegiatan yang mulia.”
Niken terdiam. Ia mengambil handuk dan mandi. Suara gemericik air ledeng membuatnya sedikit tenang. Beberapa hari ini temperamennya berubah. Ia jadi mudah tersinggung, sensitif, dan tidak percaya diri hanya karena mengganggur. Beban berat yang harus ia pikul, karena ia harus dapat membuktikan kepada keluarganya bahwa ia mampu menjadi kebanggaan mereka, lebih dari yang mereka harapkan.
Ibunya sudah pergi ke pasar. Ayahnya di depan menonton televisi. Ia duduk sendiri di meja makan. Rumah besar yang hanya dihuni tiga orang, ia dan kedua orang tuanya menjadi lebih sepi di pagi hari. Ayahnya yang pensiunan kepala sekolah di salah satu sekolah dasar di desanya selalu asyik menonton acara berita di televisi, sedangkan ibunya tiap hari berdagang di pasar. Kakak-kakaknya tinggal masih satu wilayah desa. Hampir setiap hari salah satu dari mereka mampir sekedar menjenguk atau melepas lelah setelah bekerja, karena rute kerja mereka setiap hari melewati rumah Niken.
“Kayaknya hari ini aku aman bertemu dengan Yanto,” batin Niken yakin. Ia segera menyelesaikan sarapannya, masuk ke dalam kamar, dan keluar sudah dengan pakaian rapi beserta helm yang telah terpasang di kepala. Ia berjalan menuju garasi di belakang rumah. Ia sengaja tidak berpamitan pada ayahnya, karena takut diinterogasi.
Motor berjalan pelan dan hampir tidak bersuara. Kepalanya sedikit merunduk saat melewati jalanan kecil yang berada di samping ruang televisi di mana ayahnya sedang menonton televisi. Setelah menjauh dari rumahnya, ia tersenyum lega. Ia melarikan sepeda motor dengan kecepatan tinggi. Berharap Yanto juga berada di sana, di pasar Tikaran. Dengan santainya, ia memarkir sepeda motor Honda keluaran lama. Duduk di atas sepeda motor sambil melihat lalu lalang orang di pasar.
Belum tampak wajah Yanto. Toko di mana Yanto bekerja baru dibuka. Dari kejauhan, Niken bisa melihat seorang gadis sedang membuka papan-papan pintu toko. Niken kenal dengan gadis itu. Ia adik Yanto. Indah namanya. Niken bergegas berdiri dan berjalan. Ia melihat ke arah kiri dan kanan, setelah dirasa aman dari motor yang hilir mudik, ia pun menyeberang. Benar saja, Indah tersenyum setelah melihat Niken datang.
“Lho Mbak Niken, cari Mas Yanto ya. Belum datang tuh. Tadi malam ronda, mungkin bentar lagi. Soalnya tadi ibu menyuruhnya bawa dagangan dari rumah,” jelas Indah seperti sudah mengerti apa yang akan ditanyakan Niken padanya.
“Iya, nggak apa-apa. Aku cuma mampir kok Dik,” Niken pura-pura mengerti. Ia pun duduk di samping Indah yang sibuk merapikan dagangannya. Sambil sesekali ikut merapikan dagangan, Niken hanya mengangguk tatkala Indah menawarkan segelas teh hangat.
“Ni mbak diminum dulu. Sambil menunggu Mas Yanto datang. Masak makan angin saja. Nanti aku dimarahi Mas Yanto,” gurau Indah.
“Ah, nggak apa-apa. Soalnya aku tadi di rumah sudah minum dan makan, dik Indah.”
“Ya gak apa-apa Mbak. Ayo diminum. Biar nggak bosan nunggunya.”
Mereka tersenyum bersama. Niken mengambil minuman hangat itu, kemudian diteguknya sedikit. Panas dan terasa manis. Cuaca yang dingin membuat minuman itu terasa sebagai penghangat di dalam tubuhnya. Sehangat rindu yang sedang ia rasakan saat menunggu kedatangan Yanto. Waktu terus bergulir. Sudah hampir 1 jam ia menunggu. Ia duduk sendiri di depan masih setia menunggu, karena Indah sudah sibuk melayani pembeli. Niken ingin membantu, tetapi Indah dengan tersenyum tak mengizinkannya.
“Nggak usah Mbak, aku udah biasa begini kok. Tuh, lagian Mas Yanto juga udah nongol.” Benar saja, Niken melihat wajah Yanto tersenyum manis kepadanya. Terlihat sekali wajah habis bangun tidur. Matanya masih sembab.
“Udah dari tadi, Ken?” tanya Yanto lembut.
“Uh, udah 3 jam Mas. Emang Mas Yanto nggak tahu kalau Mbak Niken mau kemari? Lama sekali ditunggu malah enak-enak tidur,” ledek Indah sengaja.
“Hah, benar 3 jam Ken? Sorry, tadi Pak RT datang nyuruh nambal ban. Ya udah aku kerjakan. Makanya lama kemari.” Niken pura-pura cemberut. Tetapi kemudian tertawa melihat wajah Yanto berubah memelas.
“Ya, ya gak pa pa. Aku belum lama kok di sini. Aku mau mengajakmu ke tempat temanku. Ada waktu kan?” Niken cepat berdiri dan merapikan pakaiannya. Setelah mengangguk pada Indah yang masih sibuk melayani pelanggan, ia pun berjalan ke tempat sepeda motornya berada. Yanto berjalan di belakang. Mereka sudah berada di keramaian jalan raya Desa Tikaran. Ketika tiba-tiba hujan rintik-rintik turun. Menambah udara semakin dingin.
“Berteduh dulu, Nduk,” usul Yanto yang berada di depan.
“Nggak usah. Nggak deras-deras amat. Langsung aja. Nanti kelamaan di jalan, aku bisa kemalaman pulang.”
Yanto menuruti kata-kata kekasihnya. Ia sedikit mempercepat laju kendaraan hingga sampai ditanjakkan jalan. Jalanan yang semakin lama semakin naik itu membuat sepeda motor Niken kembali berjalan pelan dan berat. Honda tua itu seperti menangis dengan suara knalpotnya yang pecah. Tapi hebatnya motor tua Niken masih saja kuat berlari mengitari lereng gunung Merbabu. Hebat, sekuat hati Niken menghadapi beban berat di pundaknya.
Motor itu berhenti di sebuah gang dimana berdiri seorang anak kecil dengan menenteng sebuah pancing. Ia mengenali wajah anak itu. “Turun sini aja Yan,” dengan cepat Niken turun dari motornya dan menghampiri anak kecil yang ternyata adik Sinta teman yang akan ia kunjungi.
“Dik, ngapain berdiri di sini, nunggu siapa?”
Anak kecil itu seperti mengingat-ingat wajah Niken. Selang beberapa detik, ia tersenyum ramah sambil berkata,” Oh Mbak Niken. Ini aku lagi nunggu temanku.”
“Lho emang mau ke mana?”
“Mau mancing,” jelasnya ramah.
“Oh, gitu. Mbak Sinta ada nggak?”
“Ada, lagi nonton TV, ke sana aja Mbak.”
Niken meninggalkan adik Sinta sendiri. Ia berjalan diikuti Yanto yang masih mengendarai motornya. Jalanan yang masih belum diaspal, di sana-sini bebatuan yang hampir merata.
“Assalamu’alaikum w.w.”
Bunyi gerendel pintu terdengar dan tak lama pintu pun terbuka. Wajah Sinta menyembul dari balik pintu. Ia tersenyum gembira melihat Niken datang.
“Hei. . . ayo masuk. Kasihan kalian basah kuyub.” Sinta duduk dahulu dan menyilahkan keduanya duduk di kursi panjang. Mereka bertiga telah asyik bersenda gurou. Tetapi seperti perkiraan Niken, Sinta seperti mengerti bahwa tujuannya datang adalah untuk meminjam tempat agar bisa berbicara dengan Yanto.
“Dah, silahkan kalian berbicara. Aku tak ke belakang. Santai aja Yan, Bapak dan Ibuku pulangnya sore, dan adikku lagi mancing.”
“Iya, tadi aku bertemu di jalan. Katanya mau mancing sama temannya,” Niken menjelaskan.
Suasana sepi kembali. Sinta sudah sibuk di belakang dengan jahitannya. Tinggal Niken dan Yanto. Mereka terlihat serius. Niken berusaha mempersiapkan kata-katanya dengan baik. Walau kerongkongannya terasa panas dan hal ini sering terjadi bila ia hendak mengatakan sesuatu kepada Yanto. Bukan karena ia tidak bisa bicara jujur, tetapi ia selalu khawatir apa yang akan dilakukan Yanto padanya setelah tahu apa maksud pembicaraannya yang selalu sama dan sama saja masalahnya dari dulu.
“Yan, kita nggak bisa terus bersama sekarang. Aku selalu pusing bila membahas hal ini. Asal kamu tahu, orang tuaku menuntutku untuk bekerja dan mereka tidak setuju dengan hubungan kita ini,” kata-kata pembukaan Niken langsung mengenai intinya.
“Kamu selalu bicara itu terus sih, Dik. Mbok kita itu harus kuat menghadapi masalah ini,” tanggap Yanto dengan wajah memelas.
“Kamu nggak tahu bagaimana rasanya dipojokkan. Kamu sendiri sudah kusuruh kerja yang bener sampai sekarang kerjaanmu nggak pernah serius. Mereka kan mudah menyalahkanku. Wajar donk mereka nggak setuju dengan hubungan kita, soalnya melihatmu selalu luntang-luntung nggak karuan,” Niken panjang lebar menjelaskan.
“Kayak mudah saja cari kerja. . . .”
“Lha kamu pilih-pilih kerja sih Yan. Aku tu maunya kamu kerja yang ajeg. Jangan kayak gini. Cuma mbantuin di toko ibumu. Ya aku aja bisa mbantu ibuku di pasar. Tapi kan maunya keluargaku kamu itu kerja mapan. Bagaimana mereka mau setuju kalau melihatmu selalu nganggur, malam begadang kadang mabok, paginya molor,” jelas Niken putus asa.
Suasana diam sejenak.
“Ya udah, karebmu piya Dik. Terus terang, aku kan nggak punya duit kayak keluargamu. Aku memang kalah jika dibandingkan dengan kamu yang lulusan sarjana. Lha aku suruh kerja apa kalau cuma lulusan SMA?”
“Ya kerja apa kek, yang penting jangan nganggur. Makanya sekarang aku minta kita putus saja. Soalnya aku sendiri sekarang nganggur. Keluargaku selalu tidak percaya kalau kita sudah bubaran. Aku selalu menutup-nutupinya. Aku lelah dengan hubungan yang slintat-slintut begini.”
“Aku nggak setuju kita putus. Aku masih mencintaimu Dik.”
“Cinta-cinta, kalau makan cinta saja nggak cukup Yan. Dah, pokoknya kita sekarang putus. Aku nggak mau ketemu dan berhubungan denganmu lagi. Titik.”
“Dik, kamu jangan main putus sepihak begitu. Aku nggak mau kita putus. Pokoknya nggak mau!” Yanto membanting kunci motor yang masih dipegangnya. Suaranya keras sekali membentur meja tamu. Sinta sampai keluar mendengarnya. Tetapi, Niken memberi aba-aba agar ia masuk kembali ke dalam.
“Kamu jangan emosi begitu Yan. Aku sudah capai dengan hubungan kita yang nggak jelas ujungnya. Pengorbananku sia-sia. Percuma aku membantumu tetapi kamu seenaknya sendiri. Kan aku udah pernah bilang, sebelum aku lulus, kamu sudah harus dapat kerja. Sampai sekarang aku pulang ke sini, kamu masih saja nganggur.”
“Brak!”
Niken terlonjak kaget. Ia melihat wajah Yanto merah padam menatap tajam ke arahnya. Ia terdiam hampir menangis. Dengan wajah menunduk, ia biarkan Yanto memegang tangannya.
“Dengan Dik, sekali lagi kamu bilang putus kepadaku, tidak segan aku menamparmu. Kamu tahu aku tidak bisa hidup tanpamu. Tapi aku akan tega bila engkau memperlakukanku begitu kejam,” emosi Yanto tak terkendali.
Tiba-tiba Niken berlari ke kamar Sinta. Ia cepat menutup pintu dan menguncinya. Sinta yang berada di mesin jahitnya di ruang tengah langsung berdiri dan menghampiri Yanto yang sedang mengedor-gedor pintu kamar itu. “Yan, sabar kenapa sih. Kamu jangan paksa dia keluar. Ini sudah terlalu ramai. Sebentar lagi orang tuaku pulang. Gak enak rebut-ribut begini. Sebaiknya kamu pulang pakai motorku. Biar nanti Niken pulang sendiri.” Perintah tegas Sinta membuat Yanto terdiam seperti memikirkan sesuatu.
Ia menerima saja kunci motor dari tangan Sinta dan langsung berlalu begitu saja. Sinta masih sempat melihat wajah Yanto menahan geram. Begitu Yanto pergi, pintu kamar terbuka setelah diketok beberapa kali oleh Sinta. Sinta duduk di pinggiran ranjang dan mencoba menghibur Niken yang sudah sesenggukan.
“Sudahlah Ken. Sabar saja. Memang nggak ada jalan keluarnya selain kamu mengakhiri hubunganmu dengannnya.” Rambut panjang Niken disibakkannya. Niken pun berdiri dan mengusap-usap matanya membersihkan air mata yang masih mengalir deras.  Sinta menunggu beberapa saat. Seperti yang sudah ia duga, Niken kemudian menjelaskan bagaimana ruwetnya hubungannya dengan Yanto. Walau sudah dijalani selama 9 tahun secara sembunyi-sembunyi, tetap saja Niken merasa tertekan, karena ia tidak dapat membuat orang tuanya setuju dan terlebih lagi ia tidak dapat membantu Yanto untuk mendapatkan pekerjaan sesuai keinginan orang tuanya. Ia lelah dengan pengorbanan yang sia-sia. Walau cintanya sangat besar, tetapi yang ia lawan adalah orang tuanya sendiri. Ia merasa berdiri di tengah-tengah panas api yang membara. Putus asa dan hilang kepercayaan. Yang ada hanya rasa sakit, sesak di dada.
“Bagaimana Yanto Sin?” tanyanya ingin tahu.
“Kusuruh pulang pakai motorku. Kelihatannya ia selalu marah kalau kamu mengajaknya putus.”
“Tentu saja. Ia pas-ti marah. Dari du-lu mana mau ia ku-putus. Ka-dang ia men-yakiti diri-nya sen-diri. Bahkan per-nah ia menyakiti-ku, Sin,” Niken menjelaskan sambil menahan tangis. Kata-katanya terbata-bata.
“Tapi kamu harus segera mengambil sikap Ken. Karena ini sudah menyangkut keluargamu. Kalau dulu aku masih bisa membantumu karena kita berada di Yogya. Nah sekarang, kita ini sudah di rumah. Apa yang kita lakukan, orang tua kita pasti tahu gerak-gerik kita.”
“Aku sadar orang tuaku benar. Yanto belum kerja, dia pengangguran. Bagi keluargaku adalah aib dapat mantu kayak dia. Tapi aku mencintainya Sin. Sudah kuusahakan yang terbaik. Aku berkorban banyak membantu Yanto agar dapat masuk kepolisian. Tapi selalu gagal diujian. Bagaimana aku tidak marah melihatnya tidak semangat begitu. Padahal maksudku, kalau mau kita maju bersama. Semangat dan tunjukkan pada orang tuaku bahwa kita mampu berhasil. Tapi ini nggak. Yanto malah patah semangat. Ia senang nglokro, tapi nggak mau putus denganku.” Kali ini Niken tidak dapat menahan tangisnya. Ia menangis keras sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
“Sabar donk Ken. Aku tahu ini berat bagimu. Bagaimanapun orang tua itu nomor satu. Sudah jelas mereka nggak setuju, kamu masih saja berhubungan dengan Yanto.”
“Karena aku takut Yanto akan kasar kepadaku. Sebenarnya sejak beberapa bulan ini, aku tidak merasakan lagi apa itu cinta. Yang kurasakan hanya hampa. Dan dia selalu menggebu-gebu ingin selalu berdekatan denganku. Aku tak kuasa menahan keinginannya.”
“Begini saja, daripada hal ini terus-terusan terulang, kamu ambil sikap deh. Masalahnya buat apa juga kamu mbelain Yanto, kalau dia memang susah diajak maju. Apa kamu mau hidup sengsara gara-gara melawan orang tua?”
“Ya bukan begitu. Aku mau Yanto bisa menerima keputusanku ini dengan baik. Kita bisa bersahabat. Soalnya emang sudah kepalang basah orang tuaku benar-benar tidak menyetujui hubungan kami.”
Mereka terdiam. Sinta mengangguk-angguk. Ia merasa iba dengan sahabatnya. Tapi apa boleh buat. Ia sendiri tidak bisa menolong. Karena masalahnya terlalu dalam. Saat mengantar Niken ke halaman depan, Sinta membisikkan sesuatu kepada Niken. Niken menggangguk sambil mencoba tersenyum kepadanya.
“Makasih, Sin. Aku berusaha tegar. Bagaimana pun aku tahu maksud orang tuaku baik. Cuma aku ingin Yanto selalu mendukungku. Keputusan ini sangat berat kuambil. Tapi aku yakin ini yang terbaik bagi kita berdua.” Niken menuntun motornya ke jalan. Ia segera berlalu meninggalkan Sinta yang ikut terharu melihat penderitaan sahabatnya.
Beberapa bulan kemudian, Niken mempunyai kesibukan baru. Ia mulai mengajar sebagai guru honorer di sebuah sekolah yang letaknya sangat terpencil dari keramaian. Hati Niken berteriak melihat keadaan sekolah yang serba kurang. Ia sangat terharu melihat semangat anak-anak didiknya yang walaupun kekurangan tetapi masih mempunyai niat belajar dan menghargai ilmu yang mereka dapatkan. Satu titik terang baginya untuk terus berjuang melawan masa depan.

Yogyakarta, Maret 2003
Chiechie Jaroch Rianto

No comments:

Post a Comment