Menjadi pengangguran perasaan Niken menjadi tidak karuan. Ia jadi tidak
betah tinggal di rumah. Padahal sebulan yang lalu ia baru saja diwisuda. Ia melihat
sebuah album kecil baru dan melihat foto wisuda dimana ia dan kedua orang
tuanya berpose. Saat itu orang tuanya pasti bahagia melihatnya telah berhasil
menjadi sarjana. Tetapi, sebulan berlalu, tiba-tiba
semuanya menjadi berubah.
Ia jadi canggung tinggal di rumah, karena sebagai anak bungsu, ia satu-satunya
anak lulusan sarjana dari empat bersaudara yang kesemuanya hanya sampai diploma.
Kakak-kakaknya berhasil menjadi pegawai negeri. Bahkan telah berkeluarga dan
hidup berkecukupan, sedangkan ia sekarang menjadi pengangguran.
Walau baru seminggu menganggur, rasanya seperti setahun. Ia merasa
kakak-kakaknya menuntut sesuatu hasil yang lebih daripada yang mereka dapatkan.
Itu terlihat dari setiap kata-kata dan nasihat yang mereka ucapkan. Belum lagi,
Yanto pacarnya yang sangat tidak mereka setujui, membuat Niken pusing tujuh
keliling. Bagaimana tidak, sekarang ia sudah tidak bisa lagi sembunyi-sembunyi
bertemu dengannya. Segala tindak-tanduknya selalu menjadi sorotan dan yang
tidak kalah memusingkan, orang tuanya selalu menuntutnya agar segera menikah
pula.
Seperti pagi itu, saat Niken terlambat bangun, sarapan, dan teh panas
sudah tersedia di meja makan. Ia melihat ibunya sibuk di dapur memanaskan sayur
semalam. “Oalah Ken-ken, kamu bangun siang begini, bagaimana ayahmu nggak marah
kalau begini terus,” ibunya menegur tanpa memandang wajah Niken, sibuk
mengaduk-aduk sayur.
“Ya maaf Bu. Niken tadi malam nggak bisa tidur. Suntuk. Ibu kan tahu Niken nggak
kerja-kerja sampai sekarang. Mana duit nggak pernah dikasih sekarang.”
“Duit, duit. Kamu dikasih berapa aja pasti habis. Dulu ibu kasih kan untuk biaya sekolah.
Sekarang udah lulus begini mau minta juga buat apa to?” tanya ibu Niken dengan
wajah heran.
“Lha ya buat ngelamar-ngelamar kerjaan. Bagaimana mau dapat kerja kalau
fasilitas nggak dikasih,” sahut Niken dengan nada membela.
“Lha ya sabar, berusaha terus. Kamu nggak pernah ngelamar kerja gimana
mau dapat.”
“Lho, Niken itu sudah menitipkan lamaran ke teman-teman. Juga kadang
kirim kabar lewat SMS biar cepat. Begitu ada, pasti mereka kasih kabar. Makanya
ibu kasih duit sama Niken, pasti Niken giat cari kerjaan.”
“Ya ibu kasih nanti, tapi paling nggak kamu juga mutar-mutar mencari
lowongan di daerah sini, supaya cepat dapat kerja,” ibunya kembali memberi
nasihat.
“Ah ibu kayak nggak tahu saja berapa gaji guru di daerah ini sih?” Niken
membela diri. Ia tidak terima lulusan sarjana hanya dibayar kecil. Apalagi
daerahnya masih termasuk wilayah terpencil.
“Ya nggak apa-apa to, daripada nganggur. Dilihat orang juga nggak jelek. Ada kegiatan yang mulia.”
Niken terdiam. Ia mengambil handuk dan mandi. Suara gemericik air ledeng
membuatnya sedikit tenang. Beberapa hari ini temperamennya berubah. Ia jadi
mudah tersinggung, sensitif, dan tidak percaya diri hanya karena mengganggur. Beban
berat yang harus ia pikul, karena ia harus dapat membuktikan kepada keluarganya
bahwa ia mampu menjadi kebanggaan mereka, lebih dari yang mereka harapkan.
Ibunya sudah pergi ke pasar. Ayahnya di depan menonton televisi. Ia duduk
sendiri di meja makan. Rumah besar yang hanya dihuni tiga orang, ia dan kedua
orang tuanya menjadi lebih sepi di pagi hari. Ayahnya yang pensiunan kepala
sekolah di salah satu sekolah dasar di desanya selalu asyik menonton acara
berita di televisi, sedangkan ibunya tiap hari berdagang di pasar.
Kakak-kakaknya tinggal masih satu wilayah desa. Hampir setiap hari salah satu
dari mereka mampir sekedar menjenguk atau melepas lelah setelah bekerja, karena
rute kerja mereka setiap hari melewati rumah Niken.
“Kayaknya hari ini aku aman bertemu dengan Yanto,” batin Niken yakin. Ia
segera menyelesaikan sarapannya, masuk ke dalam kamar, dan keluar sudah dengan
pakaian rapi beserta helm yang telah terpasang di kepala. Ia berjalan menuju
garasi di belakang rumah. Ia sengaja tidak berpamitan pada ayahnya, karena
takut diinterogasi.
Motor berjalan pelan dan hampir tidak bersuara. Kepalanya sedikit
merunduk saat melewati jalanan kecil yang berada di samping ruang televisi di
mana ayahnya sedang menonton televisi. Setelah menjauh dari rumahnya, ia
tersenyum lega. Ia melarikan sepeda motor dengan kecepatan tinggi. Berharap Yanto
juga berada di sana,
di pasar Tikaran. Dengan santainya, ia memarkir sepeda motor Honda keluaran
lama. Duduk di atas sepeda motor sambil melihat lalu lalang orang di pasar.
Belum tampak wajah Yanto. Toko di mana Yanto bekerja baru dibuka. Dari
kejauhan, Niken bisa melihat seorang gadis sedang membuka papan-papan pintu
toko. Niken kenal dengan gadis itu. Ia adik Yanto. Indah namanya. Niken
bergegas berdiri dan berjalan. Ia melihat ke arah kiri dan kanan, setelah
dirasa aman dari motor yang hilir mudik, ia pun menyeberang. Benar saja, Indah
tersenyum setelah melihat Niken datang.
“Lho Mbak Niken, cari Mas Yanto ya. Belum datang tuh. Tadi malam ronda,
mungkin bentar lagi. Soalnya tadi ibu menyuruhnya bawa dagangan dari rumah,”
jelas Indah seperti sudah mengerti apa yang akan ditanyakan Niken padanya.
“Iya, nggak apa-apa. Aku cuma mampir kok Dik,” Niken pura-pura mengerti.
Ia pun duduk di samping Indah yang sibuk merapikan dagangannya. Sambil sesekali
ikut merapikan dagangan, Niken hanya mengangguk tatkala Indah menawarkan
segelas teh hangat.
“Ni mbak diminum dulu. Sambil menunggu Mas Yanto datang. Masak makan
angin saja. Nanti aku dimarahi Mas Yanto,” gurau Indah.
“Ah, nggak apa-apa. Soalnya aku tadi di rumah sudah minum dan makan, dik
Indah.”
“Ya gak apa-apa Mbak. Ayo diminum. Biar nggak bosan nunggunya.”
Mereka tersenyum bersama. Niken mengambil minuman hangat itu, kemudian
diteguknya sedikit. Panas dan terasa manis. Cuaca yang dingin membuat minuman
itu terasa sebagai penghangat di dalam tubuhnya. Sehangat rindu yang sedang ia
rasakan saat menunggu kedatangan Yanto. Waktu terus bergulir. Sudah hampir 1
jam ia menunggu. Ia duduk sendiri di depan masih setia menunggu, karena Indah
sudah sibuk melayani pembeli. Niken ingin membantu, tetapi Indah dengan tersenyum
tak mengizinkannya.
“Nggak usah Mbak, aku udah biasa begini kok. Tuh, lagian Mas Yanto juga
udah nongol.” Benar saja, Niken melihat wajah Yanto tersenyum manis kepadanya.
Terlihat sekali wajah habis bangun tidur. Matanya masih sembab.
“Udah dari tadi, Ken?” tanya Yanto lembut.
“Uh, udah 3 jam Mas. Emang Mas Yanto nggak tahu kalau Mbak Niken mau
kemari? Lama sekali ditunggu malah enak-enak tidur,” ledek Indah sengaja.
“Hah, benar 3 jam Ken? Sorry, tadi Pak RT datang nyuruh nambal ban. Ya
udah aku kerjakan. Makanya lama kemari.” Niken pura-pura cemberut. Tetapi
kemudian tertawa melihat wajah Yanto berubah memelas.
“Ya, ya gak pa pa. Aku belum lama kok di sini. Aku mau mengajakmu ke
tempat temanku. Ada waktu kan?” Niken cepat berdiri dan merapikan
pakaiannya. Setelah mengangguk pada Indah yang masih sibuk melayani pelanggan,
ia pun berjalan ke tempat sepeda motornya berada. Yanto berjalan di belakang.
Mereka sudah berada di keramaian jalan raya Desa Tikaran. Ketika tiba-tiba
hujan rintik-rintik turun. Menambah udara semakin dingin.
“Berteduh dulu, Nduk,” usul Yanto yang berada di depan.
“Nggak usah. Nggak deras-deras amat. Langsung aja. Nanti kelamaan di
jalan, aku bisa kemalaman pulang.”
Yanto menuruti kata-kata kekasihnya. Ia sedikit mempercepat laju kendaraan
hingga sampai ditanjakkan jalan. Jalanan yang semakin lama semakin naik itu
membuat sepeda motor Niken kembali berjalan pelan dan berat. Honda tua itu
seperti menangis dengan suara knalpotnya yang pecah. Tapi hebatnya motor tua
Niken masih saja kuat berlari mengitari lereng gunung Merbabu. Hebat, sekuat
hati Niken menghadapi beban berat di pundaknya.
Motor itu berhenti di sebuah gang dimana berdiri seorang anak kecil dengan
menenteng sebuah pancing. Ia mengenali wajah anak itu. “Turun sini aja Yan,” dengan
cepat Niken turun dari motornya dan menghampiri anak kecil yang ternyata adik
Sinta teman yang akan ia kunjungi.
“Dik, ngapain berdiri di sini, nunggu siapa?”
Anak kecil itu seperti mengingat-ingat wajah Niken. Selang beberapa
detik, ia tersenyum ramah sambil berkata,” Oh Mbak Niken. Ini aku lagi nunggu temanku.”
“Lho emang mau ke mana?”
“Mau mancing,” jelasnya ramah.
“Oh, gitu. Mbak Sinta ada nggak?”
“Ada, lagi nonton TV, ke sana aja Mbak.”
Niken meninggalkan adik Sinta sendiri. Ia berjalan diikuti Yanto yang
masih mengendarai motornya. Jalanan yang masih belum diaspal, di sana-sini bebatuan
yang hampir merata.
“Assalamu’alaikum w.w.”
Bunyi gerendel pintu terdengar dan tak lama pintu pun terbuka. Wajah
Sinta menyembul dari balik pintu. Ia tersenyum gembira melihat Niken datang.
“Hei. . . ayo masuk. Kasihan kalian basah kuyub.” Sinta duduk dahulu dan
menyilahkan keduanya duduk di kursi panjang. Mereka bertiga telah asyik
bersenda gurou. Tetapi seperti perkiraan Niken, Sinta seperti mengerti bahwa
tujuannya datang adalah untuk meminjam tempat agar bisa berbicara dengan Yanto.
“Dah, silahkan kalian berbicara. Aku tak ke belakang. Santai aja Yan,
Bapak dan Ibuku pulangnya sore, dan adikku lagi mancing.”
“Iya, tadi aku bertemu di jalan. Katanya mau mancing sama temannya,”
Niken menjelaskan.
Suasana sepi kembali. Sinta sudah sibuk di belakang dengan jahitannya.
Tinggal Niken dan Yanto. Mereka terlihat serius. Niken berusaha mempersiapkan
kata-katanya dengan baik. Walau kerongkongannya terasa panas dan hal ini sering
terjadi bila ia hendak mengatakan sesuatu kepada Yanto. Bukan karena ia tidak
bisa bicara jujur, tetapi ia selalu khawatir apa yang akan dilakukan Yanto
padanya setelah tahu apa maksud pembicaraannya yang selalu sama dan sama saja
masalahnya dari dulu.
“Yan, kita nggak bisa terus bersama sekarang. Aku selalu pusing bila
membahas hal ini. Asal kamu tahu, orang tuaku menuntutku untuk bekerja dan
mereka tidak setuju dengan hubungan kita ini,” kata-kata pembukaan Niken
langsung mengenai intinya.
“Kamu selalu bicara itu terus sih, Dik. Mbok kita itu harus kuat
menghadapi masalah ini,” tanggap Yanto dengan wajah memelas.
“Kamu nggak tahu bagaimana rasanya dipojokkan. Kamu sendiri sudah kusuruh
kerja yang bener sampai sekarang kerjaanmu nggak pernah serius. Mereka kan
mudah menyalahkanku. Wajar donk mereka nggak setuju dengan hubungan kita,
soalnya melihatmu selalu luntang-luntung nggak karuan,” Niken panjang lebar
menjelaskan.
“Kayak mudah saja cari kerja. . . .”
“Lha kamu pilih-pilih kerja sih Yan. Aku tu maunya kamu kerja yang ajeg.
Jangan kayak gini. Cuma mbantuin di toko ibumu. Ya aku aja bisa mbantu ibuku di
pasar. Tapi kan
maunya keluargaku kamu itu kerja mapan. Bagaimana mereka mau setuju kalau
melihatmu selalu nganggur, malam begadang kadang mabok, paginya molor,” jelas
Niken putus asa.
Suasana diam sejenak.
“Ya udah, karebmu piya Dik. Terus terang, aku kan nggak punya duit kayak
keluargamu. Aku memang kalah jika dibandingkan dengan kamu yang lulusan
sarjana. Lha aku suruh kerja apa kalau cuma lulusan SMA?”
“Ya kerja apa kek, yang penting jangan nganggur. Makanya sekarang aku
minta kita putus saja. Soalnya aku sendiri sekarang nganggur. Keluargaku selalu
tidak percaya kalau kita sudah bubaran. Aku selalu menutup-nutupinya. Aku lelah
dengan hubungan yang slintat-slintut begini.”
“Aku nggak setuju kita putus. Aku masih mencintaimu Dik.”
“Cinta-cinta, kalau makan cinta saja nggak cukup Yan. Dah, pokoknya kita
sekarang putus. Aku nggak mau ketemu dan berhubungan denganmu lagi. Titik.”
“Dik, kamu jangan main putus sepihak begitu. Aku nggak mau kita putus.
Pokoknya nggak mau!” Yanto membanting kunci motor yang masih dipegangnya.
Suaranya keras sekali membentur meja tamu. Sinta sampai keluar mendengarnya.
Tetapi, Niken memberi aba-aba agar ia masuk kembali ke dalam.
“Kamu jangan emosi begitu Yan. Aku sudah capai dengan hubungan kita yang
nggak jelas ujungnya. Pengorbananku sia-sia. Percuma aku membantumu tetapi kamu
seenaknya sendiri. Kan aku udah pernah bilang, sebelum aku lulus, kamu sudah
harus dapat kerja. Sampai sekarang aku pulang ke sini, kamu masih saja
nganggur.”
“Brak!”
Niken terlonjak kaget. Ia melihat wajah Yanto merah padam menatap tajam
ke arahnya. Ia terdiam hampir menangis. Dengan wajah menunduk, ia biarkan Yanto
memegang tangannya.
“Dengan Dik, sekali lagi kamu bilang putus kepadaku, tidak segan aku
menamparmu. Kamu tahu aku tidak bisa hidup tanpamu. Tapi aku akan tega bila
engkau memperlakukanku begitu kejam,” emosi Yanto tak terkendali.
Tiba-tiba Niken berlari ke kamar Sinta. Ia cepat menutup pintu dan
menguncinya. Sinta yang berada di mesin jahitnya di ruang tengah langsung
berdiri dan menghampiri Yanto yang sedang mengedor-gedor pintu kamar itu. “Yan,
sabar kenapa sih. Kamu jangan paksa dia keluar. Ini sudah terlalu ramai.
Sebentar lagi orang tuaku pulang. Gak enak rebut-ribut begini. Sebaiknya kamu
pulang pakai motorku. Biar nanti Niken pulang sendiri.” Perintah tegas Sinta
membuat Yanto terdiam seperti memikirkan sesuatu.
Ia menerima saja kunci motor dari tangan Sinta dan langsung berlalu begitu
saja. Sinta masih sempat melihat wajah Yanto menahan geram. Begitu Yanto pergi,
pintu kamar terbuka setelah diketok beberapa kali oleh Sinta. Sinta duduk di
pinggiran ranjang dan mencoba menghibur Niken yang sudah sesenggukan.
“Sudahlah Ken. Sabar saja. Memang nggak ada jalan keluarnya selain kamu
mengakhiri hubunganmu dengannnya.” Rambut panjang Niken disibakkannya. Niken
pun berdiri dan mengusap-usap matanya membersihkan air mata yang masih mengalir
deras. Sinta menunggu beberapa saat.
Seperti yang sudah ia duga, Niken kemudian menjelaskan bagaimana ruwetnya
hubungannya dengan Yanto. Walau sudah dijalani selama 9 tahun secara
sembunyi-sembunyi, tetap saja Niken merasa tertekan, karena ia tidak dapat
membuat orang tuanya setuju dan terlebih lagi ia tidak dapat membantu Yanto
untuk mendapatkan pekerjaan sesuai keinginan orang tuanya. Ia lelah dengan
pengorbanan yang sia-sia. Walau cintanya sangat besar, tetapi yang ia lawan
adalah orang tuanya sendiri. Ia merasa berdiri di tengah-tengah panas api yang
membara. Putus asa dan hilang kepercayaan. Yang ada hanya rasa sakit, sesak di
dada.
“Bagaimana Yanto Sin?” tanyanya ingin tahu.
“Kusuruh pulang pakai motorku. Kelihatannya ia selalu marah kalau kamu
mengajaknya putus.”
“Tentu saja. Ia pas-ti marah. Dari du-lu mana mau ia ku-putus. Ka-dang ia
men-yakiti diri-nya sen-diri. Bahkan per-nah ia menyakiti-ku, Sin,” Niken
menjelaskan sambil menahan tangis. Kata-katanya terbata-bata.
“Tapi kamu harus segera mengambil sikap Ken. Karena ini sudah menyangkut
keluargamu. Kalau dulu aku masih bisa membantumu karena kita berada di Yogya.
Nah sekarang, kita ini sudah di rumah. Apa yang kita lakukan, orang tua kita
pasti tahu gerak-gerik kita.”
“Aku sadar orang tuaku benar. Yanto belum kerja, dia pengangguran. Bagi
keluargaku adalah aib dapat mantu kayak dia. Tapi aku mencintainya Sin. Sudah
kuusahakan yang terbaik. Aku berkorban banyak membantu Yanto agar dapat masuk
kepolisian. Tapi selalu gagal diujian. Bagaimana aku tidak marah melihatnya
tidak semangat begitu. Padahal maksudku, kalau mau kita maju bersama. Semangat
dan tunjukkan pada orang tuaku bahwa kita mampu berhasil. Tapi ini nggak. Yanto
malah patah semangat. Ia senang nglokro, tapi nggak mau putus denganku.” Kali
ini Niken tidak dapat menahan tangisnya. Ia menangis keras sambil menutupi
wajahnya dengan kedua tangannya.
“Sabar donk Ken. Aku tahu ini berat bagimu. Bagaimanapun orang tua itu
nomor satu. Sudah jelas mereka nggak setuju, kamu masih saja berhubungan dengan
Yanto.”
“Karena aku takut Yanto akan kasar kepadaku. Sebenarnya sejak beberapa
bulan ini, aku tidak merasakan lagi apa itu cinta. Yang kurasakan hanya hampa.
Dan dia selalu menggebu-gebu ingin selalu berdekatan denganku. Aku tak kuasa
menahan keinginannya.”
“Begini saja, daripada hal ini terus-terusan terulang, kamu ambil sikap
deh. Masalahnya buat apa juga kamu mbelain Yanto, kalau dia memang susah diajak
maju. Apa kamu mau hidup sengsara gara-gara melawan orang tua?”
“Ya bukan begitu. Aku mau Yanto bisa menerima keputusanku ini dengan
baik. Kita bisa bersahabat. Soalnya emang sudah kepalang basah orang tuaku
benar-benar tidak menyetujui hubungan kami.”
Mereka terdiam. Sinta mengangguk-angguk. Ia merasa iba dengan sahabatnya.
Tapi apa boleh buat. Ia sendiri tidak bisa menolong. Karena masalahnya terlalu
dalam. Saat mengantar Niken ke halaman depan, Sinta membisikkan sesuatu kepada
Niken. Niken menggangguk sambil mencoba tersenyum kepadanya.
“Makasih, Sin. Aku berusaha tegar. Bagaimana pun aku tahu maksud orang
tuaku baik. Cuma aku ingin Yanto selalu mendukungku. Keputusan ini sangat berat
kuambil. Tapi aku yakin ini yang terbaik bagi kita berdua.” Niken menuntun
motornya ke jalan. Ia segera berlalu meninggalkan Sinta yang ikut terharu
melihat penderitaan sahabatnya.
Beberapa bulan kemudian, Niken mempunyai kesibukan baru. Ia mulai
mengajar sebagai guru honorer di sebuah sekolah yang letaknya sangat terpencil
dari keramaian. Hati Niken berteriak melihat keadaan sekolah yang serba kurang.
Ia sangat terharu melihat semangat anak-anak didiknya yang walaupun kekurangan
tetapi masih mempunyai niat belajar dan menghargai ilmu yang mereka dapatkan.
Satu titik terang baginya untuk terus berjuang melawan masa depan.
Yogyakarta, Maret 2003
Chiechie Jaroch Rianto
No comments:
Post a Comment