(EARTH
QUAKE)
GEMPA
BUMI 27 Mei 2006
Seperti hari-hari
biasa, sebagai tukang ketik komputer, Chalia disibukkan dengan pekerjaannya.
Pekerjaan untuk melayani para pelanggan yang rata-rata para calon guru dan
bahkan guru yang tinggalnya tak jauh dari rumah Chalia.
Hari itu hari
Jumat, tepatnya tanggal 26 Mei, Chalia menyuruh Yani dan Maman untuk datang
lebih awal, karena pekerjaan yang mereka berikan padanya sudah ia selesaikan
lebih cepat dari waktu dan jadwal yang
mereka harapkan. Chalia jadi lebih konsentrasi dalam membantu kedua mahasiswa
yang sudah menjadi sahabatnya itu.
Entah kenapa hari
itu bagi Chalia terasa begitu damai. Ia begitu ceria dan penuh kesabaran.
Seharian bertiga dari pagi, siang, hingga dilanjut setelah waktu maghrib, ia,
Yani, dan Maman asyik mengerjakan pekerjaannya masing-masing. Sambil sesekali
bersenda gurau untuk sedikit mengurangi stres yang mereka rasakan bersama.
“Yani dan Maman,
besok kalian datang pagi-pagi aja ya. Mumpung besok hari Sabtu, aku nggak ada
janjian sama yang lain. Maksudku Bab IV kepunyaan Maman kan tinggal dicek saja, lalu punya Yani
sudah bisa dicek puisinya sampai puisi ke 9,” kata Chalia saat mereka berdua
mau pulang.
“Ya, Mbak.
Kira-kira jam berapa ya?” tanya Yani dan Maman hampir bersamaan.
“Ya pagi aja, tapi
kalau Tuhan mengizinkan lho. Takutnya ada apa-apa.”
“Ah, Mbak jangan
ngomong gitu donk.”
“Emang ada apa?”
giliran Maman nyeletuk dengan mimik lucu. Mereka bertiga tertawa sambil berdiri
di dekat pintu.
“Lho ya siapa tahu
Tuhan tidak berkenan, bisa lampu mati, atau apa kan?” jelas Chalia dengan wajah serius.
“Kamu ini sumi ya, Da?.” kata Yanti menggoda.
“Apaan tu, Mbak?”
tanya Ida penasaran.
“Susah
mingkem.”
“Hua-huaaahaha.”
Chalia tertawa sambil membalikkan badan menghadap Ida yang pura-pura cemberut.
Kebetulan Itong yang baru datang dari belakang ikutan tertawa. Muka Ida memerah
karena semua orang meledeknya.
“Dari tadi bukannya
lihat film, malah nanya-nanya aku terus kamu, Da” kata Chalia lembut.
“Habisnya
menakutkan begini ceritanya.”
“Kalau takut nggak
usah ditonton donk.”
“Lha apik je, Mbak,” katanya membela diri.
Chalia kemudian
menceritakan sedikit akhir dari cerita film itu. Tapi hal itu tidak membuat Ida
lega, ia tetap melihat film itu dengan menutup mata dengan jari-jari tangannya,
hingga yang tersisa sebuah lubang kecil untuk dapat melihat film itu.
“Lha sama saja kamu
gitu, Da. Kan
masih kelihatan juga. Kamu malah tambah takut,” timpal Yanti yang asyik
membersihkan wajahnya.
“Ah biarin,” kata
Ida membela diri.
“Besok jadi, Tong?”
tanya Chalia mengalihkan pembicaraan Ida, saat melihat Itong membawa kotak
riasnya ke dalam kamar.
“Jadi, ya kan Mbak Yanti?” Itong
meyakinkan pada adik Chalia.
Yang ditanya
mengangguk sambil tetap asyik membersihkan wajahnya. Setelah itu entah
bagaimana, Chalia sudah berada di alam mimpinya yang selalu sama, yaitu bertemu
seorang pangeran lamanya yang telah ia anggap menjadi malaikat pelindungnya,
ada kedamaian dan keikhlasan di mimpinya tersebut. Tapi sebentar mimpinya
kemudian menghilang.
Chalia sudah
terlelap karena kelelahan. Tetapi sekitar pukul 04.30 WIB, ia terbangun. Ia
melihat adiknya sedang salat. Itong sendiri sudah pulang ke kosnya. Sebentar
lagi mereka pergi ke Nitikan untuk merias sahabat Chalia yang juga sudah akrab
dengan yang lain. Hari itu tanggal 27 Mei, Hera mahasiswa Tata Boga
Sarjanawiyata Tamansiswa akan diwisuda di JEC.
“Tutup pintunya ya
Tong,” kata Chalia memberi pesan.
Tidak ada jawaban,
hanya suara pintu ditutup dengan pelan. Melihat mereka pergi, Chalia meneruskan
tidurnya. Ia kini berada di kos sendiri. Entah kenapa perasaan damai yang
seharian ia rasakan tiba-tiba berubah menjadi was-was dengan berita di TV yang
sedang ramai dibicarakan. Tidurnya tidak senyenyak waktu pertama ia tertidur.
Ia memikirkan gunung Merapi yang sedang tidak bersahabat. Memikirkan Mbah
Maridjan yang tiba-tiba ia kagumi dan yang membuatnya bisa menangis haru karena
keberaniannya dalam memegang prinsip.
Ia terlelap lagi,
sampai tiba-tiba, tidurnya terasa bergoyang dan diguncang keras dan
mengagetkannya. Gempa!!! Antara sadar dan tidak sadar, Chalia langsung dapat
berdiri kemudian jatuh terjerembab. Ia merangkak ke arah pintu kamarnya yang
terkunci dengan sekuat tenaga. Lututnya tidak mau digerakkan. Lumpuh rasanya. Saat
akan berdiri, ia malah terjatuh, dan ia berusaha membuka pintu dengan gemetar dan
sangat ketakutan. Dadanya seperti berhenti. Sesak rasanya.
Saat pintu dapat
terbuka walau dengan napas yang tersengal-sengal dan jantung serasa mau copot,
ia melihat pintu kamar yang berhadapan dengan kamarnya telah terbuka, dan
sahabatnya Murti dan Rini telah berdiri kaku di depan pintu kamar mereka dengan
berjejer. Mereka jadi berhadapan memandang ketakutan tanpa berkedip pada
Chalia. Chalia yang sudah lemas dengan sekuat tenaga berlari ke belakang untuk
menggedor pintu tengah mencari adiknya. Ia
berteriak-teriak,” Yanti, Yanti. Bangun Yan!” Tetapi hanya kasur busa yang ia
temukan. Ia mulai panik dan pusing. Ia tiba-tiba telah berdiri di pintu
kamarnya kembali sambil memegangi kepalanya dengan tangan kanannya. Ia
memejamkan mata serasa mengucapkan doa dan membisikkan kepasrahan kepada Tuhan.
“Ampunilah aku Tuhan. Kalau memang ini saatnya aku telah pasrah.”
Tetapi suara
jeritan Murti mengagetkan dan menyadarkannya untuk berusaha keluar dari rumah.
Rini yang sigap dan juga tersadar, berlari ke arah pintu depan dan membuka
kunci yang susah ia buka karena gemetar.
“Kletek-kletek
brakk!!” suara ganggang pintu ditarik. Akhirnya kami dapat keluar dengan cepat
walau dengan terjatuh-jatuh. Setelah berhamburan keluar, sedikit terasa sinar
kelegaan terpancar saat menjejakkan kaki di tanah depan rumah. Mata Chalia
tertumpu pada sebatang pohon pisang yang berdiri bergoyang, bukan karena takut
pohon pisang itu rubuh, tetapi syok melihat ibu kos mereka telah berdiri memeluk pohon pisang, dengan
jeritan yang memilukan. Ia seperti syok berat. Terbukti untuk beberapa saat,
orang tua itu tidak mengacuhkan kami yang telah berdiri di depannya dengan
wajah sangat ketakutan.
Chalia masih
merasakan tanah yang ia pijak bergerak seperti dikocok. Ia hanya bisa jongkok,
lututnya tak sanggup untuk berdiri. “Gunung merapi meletus apa?!” teriak Chalia
pada Rini.
“Gak tahu Mbak.
Jantungku mau copot!” jawabnya hampir menangis.
Chalia memandang
Murti kakak Rini yang hanya bisa terdiam sambil memegang kepalanya. Ia juga
melihat ibu kosnya masih memeluk pohon pisang. Hingga beberapa detik yang
akhirnya kutahu 57 detik, gempa bumi itu kemudian perlahan berhenti.
Gempa susulan
kembali datang. Chalia berlari lebih ke tengah halaman. Mengantisipasi terkena
runtuhan kalau-kalau bangunannya roboh. Semuanya terlihat syok berat. Ia
mendengar suara jeritan di mana-mana. Jantung Chalia berdecak cepat, ia
memikirkan adiknya yang sedang berada di Nitikan. Ia terdiam. . . hatinya
menjerit. “Tuhan tolong, aku. Kuatkanlah aku.”
Beberapa menit
kemudian, suasana kembali normal. Chalia mendengar tetangganya berteriak “Wah
SMK Negeri 4 temboknya runtuh dan yang lain retak-retak!!” Chalia mendengar
kalimat itu dari balik ruang tamunya. Ia masih gemetaran. Ibu kos bertanya
dengan suara keras. “Gimana rumahnya Mbak Chalia. Ada yang roboh?”
Chalia hanya bisa
memandangi wajah wanita tua itu. Ia tidak kuasa menjawab. Tangannya mendekap
dadanya. Ia merasakan jantungnya berdetak semakin cepat. Kejadian yang baru
pertama kali ia alami membuatnya terduduk kaku sambil berusaha mengatur
nafasnya agar kembali normal. Ia sudah tidak mempedulikan pertanyaan ibu kosnya
yang jelas-jelas tertuju padanya. Semua seakan tidak peduli. Namun demikian,
ibu kos seperti tidak sedang menunggu jawaban, karena ia masih terlihat shok
juga.
Saat melihat
adiknya datang bersama Itong, Chalia langsung memeluk mereka. “Syukur Tuhan,
kalian selamat. Aku sudah sangat khawatir sekali. Bagaimana aku tidak pusing,
gempa yang begitu besar tadi pasti telah banyak memakan korban.”
“Uh, Mbak, kami
terjatuh di sana.
Bayangkan, keluarganya Mbak Hera berebutan keluar kamar. Bapak dan Ibunya
gendut-gendut. Apalagi Mbak Hera. Mbak Yanti sendiri yang paling kecil jatuh
tersungkur dan kakinya kena kaki jemuran,” Itong mencoba menjelaskan dengan
panik.
“Syukur kalian
selamat” Chalia kembali mengucapkan kata-kata itu. Sepertinya ia sangat lega
melihat adik dan sahabat dekatnya selamat.
“Sudah, sekarang
kita ambil barang-barang yang penting. Biasanya akan ada susulan. Apalagi lampu
mati. Aduh, hpku lupa belum tak cas,” kata Chalia memberi komando kepada teman-temannya
untuk bergegas.
Ia masuk kembali ke
dalam kamarnya yang gelap ditemani Rini. Kaki Chalia masih terasa gemetar,
apalagi saat memasuki kamarnya. Ia begitu trauma. Gelap tak terlihat, ia
menemukan hpnya. Kakinya menginjak buku, lemari di lantai. “Kamarku pasti
sekarang lebih berantakan dari
biasanya,” pikirnya.
“Yan, yan…. cari
korek, aku menemukan lilin,” Chalia berteriak dari dalam kamarnya. Ia
benar-benar ketakutan dengan kegelapan. Walau ada Rini yang menemani, ia merasa
harus cepat-cepat keluar dari ruangan itu.
Sedikit terang
dengan cahaya lilin, Chalia segera mengambil tas punggung dan diisi beberapa
baju dalam serta perlengkapan yang penting. Ia pakai jaket yang masih
menggantung di belakang pintu kamarnya serta celana jeansnya. Begitu ia keluar dari
kamar, ternyata semua teman-temannya dan juga Yanti sudah siap berada di depan.
Sambil duduk di kursi, berenam mereka membahas kejadian alam yang baru saja
mereka alami. Sudah terdengar suara tawa walau dalam keadaan trauma dan
ketakutan saat menceritakan kejadian itu, karena mereka yakin akan adanya gempa
susulan.
Suara ribut-ribut
dan jeritan kembali terdengar. Sekitar 15 menit kemudian seorang remaja berlari
sambil meneriakkan, “Air naik, tsunami, air naik!!!”
Chalia dan semua
teman-temannya saling berpandang-pandangan. Tanpa banyak berpikir, mereka
keluar dan berlari menuju ke utara tanpa memperdulikan pintu rumah yang masih
terbuka. Banyak orang-orang yang juga berlarian kebingungan. Ada yang menangis dan menjerit, bahkan ada
juga yang pingsan. Chalia sedikit khawatir dengan barang-barang yang baru saja
ia keluarkan. Tetapi karena nyawa lebih penting, maka Ia serahkan semua pada
Tuhan, dan terus berlari ke arah Utara menuju masjid. Orang-orang
berdesak-desakan menaiki tangga masjid. Chalia kemudian tidak ikut naik ke
masjid. Ia mengajak teman-temannya menuju kantor polisi terdekat. Murti dan
Rini terpisah, karena mereka tetap berdiri di dekat masjid. Tinggal berempat,
mereka terus berlari ke arah Utara. Bergandengan tangan seakan takut terlepas
dan berpisah, Chalia, Yanti adiknya, dan kedua sahabatnya yaitu Itong dan Idong
terus berlari. Hingga tiba di dekat petugas polisi yang sedang sibuk mengatur
kendaraan yang panik karena akan adanya tsunami.
“Ayo kita tanya
polisi itu!” suara Chalia lirih.
Tidak ada yang
menjawab. Ternyata mereka sedang menahan tangis karena ketakutan.
Chalia tidak
memerdulikannya lagi. Ia yakin, ketiga temannya itu selalu akan mengikutinya.
Ia yang biasanya sangat takut dengan polisi, dalam keadaan seperti itu ia
seperti tidak sadar sudah berdiri di hadapan Pak Polisi. Ia berjalan mendekati
Polisi yang membawa walkey talkey.
“Maaf Pak… ap-a
ad-a tsu-na-mi Pak?” suara Chalia gemetar.
“Tidak ada, Mbak.
Jangan panik. Ini langsung dari Kretek wilayah dekat laut, bahwa tidak ada
tsunami. Jangan terpancing isu Mbak. Ini hanya isu dari orang-orang yang tidak
bertanggung jawab!” jelas Polisi itu meyakinkan.
“Tu dengar sendiri kan!? Gak ada tsunami.
Kita duduk dekat sini saja sambil menunggu kabar selanjutnya!” perintah Chalia
sambil duduk di pinggir trotoar jalan.
Mereka kemudian
duduk sambil melihat lalu lalang kendaraan yang terlihat panik. Baru terlihat
bahwa rumah-rumah sekitar pinggiran jalan banyak yang roboh. Hal itu semakin
membuat kaget dan panik Chalia dan teman-temannya. Apalagi kendaraan bermotor
dan mobil bergerak tak teratur dengan kecepatan tinggi menghindari isu
datangnya tsunami.
Setelah beberapa
waktu, hampir satu jam dengan teriakan dan aba-aba dari pihak kepolisian yang
jumlahnya sangat sedikit, dipastikan tidak ada tsunami, warga sedikit demi
sedikit bergerak kembali ke tempat atau rumahnya masing-masing. Masih tetap
menggandeng tangan Ida, Chalia mengajak ketiganya untuk kembali.
“Mari kita pulang.
Kita beresi barang-barang yang masih bisa kita bawa. Kita kumpul bersama saja
di satu tempat. Kalau nanti kondusif, kita pulang kampung, OK?” Tidak ada
jawaban. Tetapi Chalia melihat ketiganya itu mengangguk.
Ternyata banyak
orang yang kembali juga ke rumah mereka. Di sepanjang jalan yang tadi dipenuhi
oleh kendaraan dan mobil dengan orang-orangnya, kini ramai dipenuhi pejalan
kaki. Ada canda
tawa, tetapi masih saja terlihat ketakutan di sana-sini. Ia melihat Yani. Yani
pun langsung memeluknya.
“Gimana Mbak
Chalia. Aku tadi sudah siap mau ke tempat Mbak Chalia. Tapi karena ada gempa,
aku jadi panik dan lari bersama teman-teman ke luar. Tahu gak Mbak, aku tu
ingat kata-kata Mbak Chalia tadi malam.”
“Emang aku ngomong
apa Yan?”
Yani menirukan
kata-kata Chalia tadi malam. “Ya pagi aja, tapi kalau Tuhan mengizinkan lho.
Takutnya ada apa-apa. Terus aku kan
menjawab “Ah, Mbak jangan ngomong gitu donk.”
“Oh aku ngomong
gitu to? Habis tadi malam itu aku sedikit merasa aneh aja suasananya. Kok di
luar sepi sekali…. mana Merapi lagi aktif, sungguh kupikir itu tadi gempa dari
Merapi lho. Tetapi katanya bukan.”
“Udah ya Mbak, kita
berpisah di sini. Aku mau pulang ke Gamping,” potong Yani cepat.
“Ya, hati-hati.
Kalau Tuhan mengizinkan, kita akan menyelesaikan skripsianmu dan juga oh ya…
Maman bagaimana?”
“Nggak tahu Mbak.
Dari tadi aku nggak melihatnya.”
“Ya sudah… nanti ku-SMS
saja dia. Mudah-mudahan dia selamat.
Tiba di rumah kos,
Chalia melihat satu keluarga tetangganya berkumpul dan duduk di pinggir jalan
dekat tikungan. Ida yang kebetulan bertemu temannya, bergegas memberesi
barang-barang pentingnya. Ia ikut temannya menuju ke Jombor, sedangkan Chalia,
Yanti, dan Itong kembali ke kos. Kebetulan hanya nomor Chalia yang aktif. IM3
masih ada sinyal. Walau kadang-kadang ada gangguan. Ia mendapat pesan pendek dari
sahabatnya dari Magelang :
“Mbak,
sing sabar ya. Gempa besar tadi bukan dari Gunung Merapi, tetapi dari laut
Selatan. Sing ati-ati. Nanti kukabari lagi.”
Semua panik. Jangan-jangan
ada tsunami. Tiba-tiba hp Chalia berbunyi. “Ha-lo….” Suara Chalia
tersendat-sendat panik.
“Halo, mba-kk bi-sa
bica-ra dengan Ita?” suara dari seberang tak kalah paniknya.
“Tong, ayahmu!”
Itong yang sedang
duduk langsung berdiri dan mengambil alih telepon Chalia.
“Halo Pak. Pak…aku
takut sekali,” Ita menangis.
Chalia melihat raut
wajah Ita yang sudah basah oleh air mata. Ia berusaha menceritakan keadaan
setelah terjadinya gempa.
“Tong, cepat
jelaskan semuanya. Baterainya mau habis!” bisik Chalia lirih. Ia khawatir hpnya
mati, karena dari semalam belum di charge. Paling tidak untuk keadaan darurat
seperti sekarang ia sangat membutuhkan komunikasi dengan daerah luar, karena
seketika jaringan telepon genggam mati dan lampu padam. Tapi ibu dan keluarga
Chalia sudah mengetahui keadaan adik dan dirinya.
Siang itu setelah
beberapa kali terjadi gempa susulan, sekitar jam 11.30 WIB, keluarga Itong
datang menjemput. Tak berapa lama, Rini nekad pergi ke terminal. Hanya tinggal
Chalia, Yanti, dan Murti bersama tetangga yang sudah bergabung di halaman depan
rumah ibu kosnya. Berita dari radio yang langsung terdengar kepunyaan tetangga
memberitakan gempa yang terjadi banyak memakan korban. Korban terbesar berasal
dari daerah Bantul.
Chalia masih belum
tau langkah apa yang harus diambil. Apakah langsung pulang, atau bertahan. Ia
dan Yanti adiknya ikut berkumpul di jalan raya yang berada di depan rumah Bu
Leman. Baru beberapa langkah suara bib…bib…tanda baterai handphonenya melemah.
Ia kebingungan bagaimana mengecas, karena listrik semuanya padam. Kerusakan
yang parah karena gempa tidak memungkinkannya untuk mendapatkan tenaga baterai
lagi.
Tiba-tiba Ana
putrinya Bu Leman menegur di samping tembok rumah yang sedang ia senderi.
“Mbak, Mbak lagi apa tadi pas gempa?” suara Ana membuat Chalia menoleh ke arah
gadis cantik berkaca mata itu.
Lagi tidur, Na.
Malam tadi aku begadang membaca. Lupa nggak ngecas handphone. Sekarang hp ku
mati.” Wajah Chalia bingung.
“Oh, pakai punyaku
aja, Mbak.” Ana menawarkan dengan lembut.
“Lho, bukannya kamu
pakai?”
“Aku ada hand phone
Nokia yang satu lagi. Kebetulan tidak dipakai dan baru aja aku charge.”
Tanpa berpikir
panjang lagi, Chalia pun mengangguk. Ia lega mendapatkan pertolongan Ana. Ia
terima hand phone Nokia yang lumayan baru. Poliponik, bagus suaranya. “Ah,
jangankan baru. Yang lama aja asal bisa dipakai sudah anugerah bagiku,” batin
Chalia senang. Sambil mengganti kartu yang ada di dalam hand phone tersebut
dengan kartunya, ia memandang Ana sambil tersenyum. Tiba-tiba ia teringat Azizah, mahasiswa dari Medan yang cukup akrab
dengannya.
“Lho, Na… dimana Sizie.
Kok nggak kelihatan?”
“Oh, Mbak Sizie?...
Lucu lho Mbak…,” Ana tertawa sambil menutupi mulutnya dengan tangan kirinya.
Chalia melihat
wajah Ana tertawa terbahak-bahak jadi penasaran. Ia menunggu Ana bercerita
dengan sabar.
“Mbak, Mbak Sizie kan
juga sedang tidur. Ia cuma pakai daster singlet panjang, baju dalaman aja pas
tidur. Nah ketika gempa datang, ia buru-buru keluar tanpa pikir panjang lagi,
lari tunggang langgang ke arah jalan. Nah, kami semua lari juga. Aku juga nggak
sadar apa yang ku pakai. Begitu kami balik ke rumah lagi, kami berkumpul sambil
menunggu kemungkinan yang terjadi. Ketika orang-orang berkumpul di sini tadi,
aku melihat Mbak Sizie ikut berdiri berkumpul dengan orang-orang. Ada cowok-cowok anak kos
itu lho Mbak. Aku melihat Mbak Sizie itu cuma pakai singlet panjang, terus
BHnya itu keluar-keluar. Mana badannya itu kan gemuk, jadi aneh to Mbak.”
Chalia berusaha
menahan tertawanya. Yanti malah sudah tertawa terbahak-bahak sebelum Ana
selesai bercerita. “Lalu kamu bilang apa, Na?” tanya Chalia tak sabar.
“Aku bilang sambil
berusaha berbisik…. Mbak Sizie, Mbak…. kamu cuma pakai daster tipis thok. Sana ganti dulu, Mbak.”
“Lalu?” ganti Yanti
yang bertanya.
“Mbak Sizie melihat
ke bawah, sambil berteriak Astafirullah!!”
“Ia juga kaget
sendiri, lalu cepat-cepat kabur melesat ke arah kamarnya. Ia lari cepat sekali
Mbak. Ipel-ipel gitu lho.”
“Ha ha ha…. Sizie …
Sizie. Emang dalam keadaan kaget siapa yang bisa mengira dan bersiap-siap
berpakaian rapi, ya….”
Chalia melihat Sizie
keluar dari rumah Ana sambil tertawa-tawa sendiri. “Mbak, aku malu e Mbak. Tadi
nggak sadar lho aku.”
“Udah nggak
apa-apa. Tadi aku juga melihat ada cewek masih pakai handuk habis mandi, rambutnya
masih ada shamponya.
Ia juga cuek jalan ke sana
ke mari. Yang penting kita selamat, Zie.”
Hingga sore hari,
Chalia masih sangat ketakutan. Adik dan sahabatnya Murti sudah bisa makan,
sedangkan ia sama sekali tidak bisa memakan sesuatu apapun. Ia yang jago makan
nggak berdaya dengan musibah besar yang baru pertama kali ia alami. Ia
merasakan keajaiban dari Yang Maha Kuasa. Bukan karena ia bisa selamat dari
bencana alam tersebut, tetapi keajaiban di saat-saat ia terjebak dari dalam
rumah yang sama sekali sulit untuk dibuka, seperti ada bisikan yang kuat yang
membuatnya tersadar dari kepasrahan. Bisikan yang memberi semangat padanya
untuk segera berlari. Dalam benaknya ia berkata-kata, “Ah, Engkau sungguh masih
bersabar terhadapku Tuhanku. Aku yang selalu nakal dan tidak patuh, aku yang
berdosa, aku yang tidak layak berada di hadapan-Mu karena kenakalanku, tetapi
Engkau juga yang memberiku hidup… terima kasih Tuhanku.”
Suara pesan SMS
terdengar. Cepat-cepat Chalia buka, ternyata dari temannya, Pri mahasiswa PBSI
yang juga sedang mengerjakan skripsi dengannya. Ia menanyakan keadaan Chalia
dan teman-temannya. Chalia merasa lega masih dapat berhubungan dengan sahabat
dekatnya itu. Pri mengajaknya pulang, tetapi Pri kebingungan karena bahan bakar
untuk mobilnya habis. Sudah dicari dimana-mana tetapi kosong hasilnya.
Hujan rintik-rintik
dan tikar-tikar yang baru saja ditaruh di halaman kembali tergulung. Hingga
larut malam, petir dan halilintar serasa menambah lengkap ketakutan Chalia. Ia
tidak dapat memejamkan matanya. Gempa kecil masih saja terjadi. Hujan yang
semakin deras membuat teman-teman Chalia semakin bergerombol duduk di ruang
tamu. Agak sedikit bocor, tetapi mereka seperti tidak perduli.
Tiba-tiba, gempa
datang lagi. Semua terlonjak, “Ya Tuhan, beri jalan…. Ampuni aku Tuhan, aku
sangat ketakutan,” jerit hati Chalia.
Keajaiban yang
biasa dialaminya tiba-tiba saja hadir. Pri datang membangunkannya.
“Mbak, ayo kamu
ikut pulang aku gak?”
“Lho katanya bahan
bakarnya habis Pri?” tanya Chalia heran dan tak percaya.
“Iya, tapi ibuku
udah datang bawa mobil juga. Jadi mobilku lagi dicarikan bensin oleh sopirku.
Ayo, Mbak.” Pri mengajak Chalia dan adiknya Yanti untuk pulang. Dilihatnya jam
telah menunjukkan pukul 2.30 WIB. Tanpa pikir panjang, tas punggung yang sudah
siap sedari tadi ia bawa keluar dari rumah kos. Pri yang memegang payung seakan
mengerti isyarat mata Chalia yang memandangnya dan kemudian mengedip
mengisyaratkan untuk berjalan menuju ke tempat di mana ibu kos duduk
bergerombol dengan anak dan cucunya.
“Bu saya mau pulang
dulu.”
“Lho kok jam
segini, sama siapa Nak Chalia?” suara anak ibu kos kaget.
“Ini sama teman
saya. Kebetulan rumahnya dekat dengan rumah saya, di Cepu Mas.”
“Oh kalau begitu
hati-hati, ya.”
Bertiga mereka
bergegas menuju ke tempat mobil Pri berada. Di sana sudah ada ibu dan ayah Pri, sopir dan
sahabat dekat Pri. Chalia yang masih nampak shok menjabat tangan ibu Pri dengan
gemetar.
“Bu, saya temannya
Pri.”
“Oh, ya. Pri sudah
cerita, katanya temannya ada yang mau ikut. Rumahnya Padangan to Mbak?”
“Iya Bu. Terima
kasih sebelumnya, kami dapat ikut mengungsi bersama Pri dan keluarga.
“Ah, jangan sungkan
Mbak. Pri banyak cerita tentang Mbak . . . sapa tadi namanya?”
“Chalia,” kali ini
Pri yang menjawab.
“Oh ya, Mbak
Chalia. Ibu senang, karena kalian semua terutama anakku Pri selamat. Dari rumah
tadi saya sampai nekad datang kemari untuk menjemput anakku satu-satunya sama
ini lho Mbak, temannya Pri sudah kenal belum, Titus namanya.”
“Chalia memandang
wajah teman Pri yang bernama Titus. Ada
luka di dahinya. Katanya terbentur dinding pintu saat hendak membuka pintu
kamarnya yang masih terkunci.
“Sudah semua to
Pri, ayo lek ndang mangkat. Nanti ada
gempa lagi aku tambah ketakutan lho.”
Semua tertawa
mendengar kata-kata ibu Pri yang terlihat panik namun lucu, karena ia bercerita
dengan sesekali membetulkan rambut keritingnya yang telah basah oleh air hujan.
Akhirnya Chalia bersama keluarga Pri berangkat menuju Cepu. Dalam perjalanan,
Chalia masih tidak percaya ia bisa selamat oleh gempa yang berkekuatan 5,9
skala richter, yang bergerak selama 57 detik itu. “Terima kasih Tuhan, Engkau
masih memberi kepercayaan kepadaku untuk mengisi hari-hariku di dunia ini
sesuai dan lebih lagi seperti kehendakMu. Semoga semua berjalan sesuai dengan
kehendakMu semata. Amien.”
Chiechie
Jaroch Rianto
No comments:
Post a Comment