Thursday, July 31, 2014

Kisah Nyata Gempa 27 Mei



(EARTH QUAKE)
GEMPA BUMI 27 Mei 2006

Seperti hari-hari biasa, sebagai tukang ketik komputer, Chalia disibukkan dengan pekerjaannya. Pekerjaan untuk melayani para pelanggan yang rata-rata para calon guru dan bahkan guru yang tinggalnya tak jauh dari rumah Chalia.
Hari itu hari Jumat, tepatnya tanggal 26 Mei, Chalia menyuruh Yani dan Maman untuk datang lebih awal, karena pekerjaan yang mereka berikan padanya sudah ia selesaikan lebih cepat dari  waktu dan jadwal yang mereka harapkan. Chalia jadi lebih konsentrasi dalam membantu kedua mahasiswa yang sudah menjadi sahabatnya itu.
Entah kenapa hari itu bagi Chalia terasa begitu damai. Ia begitu ceria dan penuh kesabaran. Seharian bertiga dari pagi, siang, hingga dilanjut setelah waktu maghrib, ia, Yani, dan Maman asyik mengerjakan pekerjaannya masing-masing. Sambil sesekali bersenda gurau untuk sedikit mengurangi stres yang mereka rasakan bersama.
“Yani dan Maman, besok kalian datang pagi-pagi aja ya. Mumpung besok hari Sabtu, aku nggak ada janjian sama yang lain. Maksudku Bab IV kepunyaan Maman kan tinggal dicek saja, lalu punya Yani sudah bisa dicek puisinya sampai puisi ke 9,” kata Chalia saat mereka berdua mau pulang.
“Ya, Mbak. Kira-kira jam berapa ya?” tanya Yani dan Maman hampir bersamaan.
“Ya pagi aja, tapi kalau Tuhan mengizinkan lho. Takutnya ada apa-apa.”
“Ah, Mbak jangan ngomong gitu donk.”
“Emang ada apa?” giliran Maman nyeletuk dengan mimik lucu. Mereka bertiga tertawa sambil berdiri di dekat pintu.
“Lho ya siapa tahu Tuhan tidak berkenan, bisa lampu mati, atau apa kan?” jelas Chalia dengan wajah serius.
        Chalia menunggu hingga mereka pergi baru menutup kantor kecilnya. Saat malam mulai terasa mengantuk kira-kira pukul 21.30 WIB, teman Chalia yang sering ia juluki dengan istilah Idong sedang menonton filmnya Harison Ford yang berjudul “What Lies Beneath”. Ida temannya itu ketakutan karena filmnya agak horor. Chalia yang sudah pernah melihat film tersebut hanya tertawa sambil tetap membelakangi sahabatnya itu, sedangkan Idong yang bernama asli Ida itu mencoba bertanya-tanya kelanjutan adegan demi adegan. Lebih karena Chalia sudah lelah dan mengantuk, ia biarkan Ida yang ketakutan sendiri dengan tidak menghiraukan segala pertanyaan mengenai film tersebut. Tapi ia jadi tertawa saat Yanti datang dari kamar sebelah, dan mengistilahkan orang cerewet dengan nama “Sumi”. Itu lho… singkatan dari susah mingkem.
“Kamu ini sumi ya, Da?.” kata Yanti menggoda.
“Apaan tu, Mbak?” tanya Ida penasaran.
“Susah mingkem.”
“Hua-huaaahaha.” Chalia tertawa sambil membalikkan badan menghadap Ida yang pura-pura cemberut. Kebetulan Itong yang baru datang dari belakang ikutan tertawa. Muka Ida memerah karena semua orang meledeknya.
“Dari tadi bukannya lihat film, malah nanya-nanya aku terus kamu, Da” kata Chalia lembut.
“Habisnya menakutkan begini ceritanya.”
“Kalau takut nggak usah ditonton donk.”
“Lha apik je, Mbak,” katanya membela diri.
Chalia kemudian menceritakan sedikit akhir dari cerita film itu. Tapi hal itu tidak membuat Ida lega, ia tetap melihat film itu dengan menutup mata dengan jari-jari tangannya, hingga yang tersisa sebuah lubang kecil untuk dapat melihat film itu.
“Lha sama saja kamu gitu, Da. Kan masih kelihatan juga. Kamu malah tambah takut,” timpal Yanti yang asyik membersihkan wajahnya.
“Ah biarin,” kata Ida membela diri.
“Besok jadi, Tong?” tanya Chalia mengalihkan pembicaraan Ida, saat melihat Itong membawa kotak riasnya ke dalam kamar.
“Jadi, ya kan Mbak Yanti?” Itong meyakinkan pada adik Chalia.
Yang ditanya mengangguk sambil tetap asyik membersihkan wajahnya. Setelah itu entah bagaimana, Chalia sudah berada di alam mimpinya yang selalu sama, yaitu bertemu seorang pangeran lamanya yang telah ia anggap menjadi malaikat pelindungnya, ada kedamaian dan keikhlasan di mimpinya tersebut. Tapi sebentar mimpinya kemudian menghilang.
Chalia sudah terlelap karena kelelahan. Tetapi sekitar pukul 04.30 WIB, ia terbangun. Ia melihat adiknya sedang salat. Itong sendiri sudah pulang ke kosnya. Sebentar lagi mereka pergi ke Nitikan untuk merias sahabat Chalia yang juga sudah akrab dengan yang lain. Hari itu tanggal 27 Mei, Hera mahasiswa Tata Boga Sarjanawiyata Tamansiswa akan diwisuda di JEC.
“Tutup pintunya ya Tong,” kata Chalia memberi pesan.
Tidak ada jawaban, hanya suara pintu ditutup dengan pelan. Melihat mereka pergi, Chalia meneruskan tidurnya. Ia kini berada di kos sendiri. Entah kenapa perasaan damai yang seharian ia rasakan tiba-tiba berubah menjadi was-was dengan berita di TV yang sedang ramai dibicarakan. Tidurnya tidak senyenyak waktu pertama ia tertidur. Ia memikirkan gunung Merapi yang sedang tidak bersahabat. Memikirkan Mbah Maridjan yang tiba-tiba ia kagumi dan yang membuatnya bisa menangis haru karena keberaniannya dalam memegang prinsip.
Ia terlelap lagi, sampai tiba-tiba, tidurnya terasa bergoyang dan diguncang keras dan mengagetkannya. Gempa!!! Antara sadar dan tidak sadar, Chalia langsung dapat berdiri kemudian jatuh terjerembab. Ia merangkak ke arah pintu kamarnya yang terkunci dengan sekuat tenaga. Lututnya tidak mau digerakkan. Lumpuh rasanya. Saat akan berdiri, ia malah terjatuh, dan ia berusaha membuka pintu dengan gemetar dan sangat ketakutan. Dadanya seperti berhenti. Sesak rasanya.
Saat pintu dapat terbuka walau dengan napas yang tersengal-sengal dan jantung serasa mau copot, ia melihat pintu kamar yang berhadapan dengan kamarnya telah terbuka, dan sahabatnya Murti dan Rini telah berdiri kaku di depan pintu kamar mereka dengan berjejer. Mereka jadi berhadapan memandang ketakutan tanpa berkedip pada Chalia. Chalia yang sudah lemas dengan sekuat tenaga berlari ke belakang untuk menggedor pintu tengah mencari adiknya.  Ia berteriak-teriak,” Yanti, Yanti. Bangun Yan!” Tetapi hanya kasur busa yang ia temukan. Ia mulai panik dan pusing. Ia tiba-tiba telah berdiri di pintu kamarnya kembali sambil memegangi kepalanya dengan tangan kanannya. Ia memejamkan mata serasa mengucapkan doa dan membisikkan kepasrahan kepada Tuhan. “Ampunilah aku Tuhan. Kalau memang ini saatnya aku telah pasrah.”
Tetapi suara jeritan Murti mengagetkan dan menyadarkannya untuk berusaha keluar dari rumah. Rini yang sigap dan juga tersadar, berlari ke arah pintu depan dan membuka kunci yang susah ia buka karena gemetar.
“Kletek-kletek brakk!!” suara ganggang pintu ditarik. Akhirnya kami dapat keluar dengan cepat walau dengan terjatuh-jatuh. Setelah berhamburan keluar, sedikit terasa sinar kelegaan terpancar saat menjejakkan kaki di tanah depan rumah. Mata Chalia tertumpu pada sebatang pohon pisang yang berdiri bergoyang, bukan karena takut pohon pisang itu rubuh, tetapi syok melihat ibu kos mereka                   telah berdiri memeluk pohon pisang, dengan jeritan yang memilukan. Ia seperti syok berat. Terbukti untuk beberapa saat, orang tua itu tidak mengacuhkan kami yang telah berdiri di depannya dengan wajah sangat ketakutan.
Chalia masih merasakan tanah yang ia pijak bergerak seperti dikocok. Ia hanya bisa jongkok, lututnya tak sanggup untuk berdiri. “Gunung merapi meletus apa?!” teriak Chalia pada Rini.
“Gak tahu Mbak. Jantungku mau copot!” jawabnya hampir menangis.
Chalia memandang Murti kakak Rini yang hanya bisa terdiam sambil memegang kepalanya. Ia juga melihat ibu kosnya masih memeluk pohon pisang. Hingga beberapa detik yang akhirnya kutahu 57 detik, gempa bumi itu kemudian perlahan berhenti.
Gempa susulan kembali datang. Chalia berlari lebih ke tengah halaman. Mengantisipasi terkena runtuhan kalau-kalau bangunannya roboh. Semuanya terlihat syok berat. Ia mendengar suara jeritan di mana-mana. Jantung Chalia berdecak cepat, ia memikirkan adiknya yang sedang berada di Nitikan. Ia terdiam. . . hatinya menjerit. “Tuhan tolong, aku. Kuatkanlah aku.”
Beberapa menit kemudian, suasana kembali normal. Chalia mendengar tetangganya berteriak “Wah SMK Negeri 4 temboknya runtuh dan yang lain retak-retak!!” Chalia mendengar kalimat itu dari balik ruang tamunya. Ia masih gemetaran. Ibu kos bertanya dengan suara keras. “Gimana rumahnya Mbak Chalia. Ada yang roboh?”
Chalia hanya bisa memandangi wajah wanita tua itu. Ia tidak kuasa menjawab. Tangannya mendekap dadanya. Ia merasakan jantungnya berdetak semakin cepat. Kejadian yang baru pertama kali ia alami membuatnya terduduk kaku sambil berusaha mengatur nafasnya agar kembali normal. Ia sudah tidak mempedulikan pertanyaan ibu kosnya yang jelas-jelas tertuju padanya. Semua seakan tidak peduli. Namun demikian, ibu kos seperti tidak sedang menunggu jawaban, karena ia masih terlihat shok juga.
Saat melihat adiknya datang bersama Itong, Chalia langsung memeluk mereka. “Syukur Tuhan, kalian selamat. Aku sudah sangat khawatir sekali. Bagaimana aku tidak pusing, gempa yang begitu besar tadi pasti telah banyak memakan korban.”
“Uh, Mbak, kami terjatuh di sana. Bayangkan, keluarganya Mbak Hera berebutan keluar kamar. Bapak dan Ibunya gendut-gendut. Apalagi Mbak Hera. Mbak Yanti sendiri yang paling kecil jatuh tersungkur dan kakinya kena kaki jemuran,” Itong mencoba menjelaskan dengan panik.
“Syukur kalian selamat” Chalia kembali mengucapkan kata-kata itu. Sepertinya ia sangat lega melihat adik dan sahabat dekatnya selamat.
“Sudah, sekarang kita ambil barang-barang yang penting. Biasanya akan ada susulan. Apalagi lampu mati. Aduh, hpku lupa belum tak cas,” kata Chalia memberi komando kepada teman-temannya untuk bergegas.
Ia masuk kembali ke dalam kamarnya yang gelap ditemani Rini. Kaki Chalia masih terasa gemetar, apalagi saat memasuki kamarnya. Ia begitu trauma. Gelap tak terlihat, ia menemukan hpnya. Kakinya menginjak buku, lemari di lantai. “Kamarku pasti sekarang lebih  berantakan dari biasanya,” pikirnya.
“Yan, yan…. cari korek, aku menemukan lilin,” Chalia berteriak dari dalam kamarnya. Ia benar-benar ketakutan dengan kegelapan. Walau ada Rini yang menemani, ia merasa harus cepat-cepat keluar dari ruangan itu.
Sedikit terang dengan cahaya lilin, Chalia segera mengambil tas punggung dan diisi beberapa baju dalam serta perlengkapan yang penting. Ia pakai jaket yang masih menggantung di belakang pintu kamarnya serta celana jeansnya. Begitu ia keluar dari kamar, ternyata semua teman-temannya dan juga Yanti sudah siap berada di depan. Sambil duduk di kursi, berenam mereka membahas kejadian alam yang baru saja mereka alami. Sudah terdengar suara tawa walau dalam keadaan trauma dan ketakutan saat menceritakan kejadian itu, karena mereka yakin akan adanya gempa susulan.
Suara ribut-ribut dan jeritan kembali terdengar. Sekitar 15 menit kemudian seorang remaja berlari sambil meneriakkan, “Air naik, tsunami, air naik!!!”
Chalia dan semua teman-temannya saling berpandang-pandangan. Tanpa banyak berpikir, mereka keluar dan berlari menuju ke utara tanpa memperdulikan pintu rumah yang masih terbuka. Banyak orang-orang yang juga berlarian kebingungan. Ada yang menangis dan menjerit, bahkan ada juga yang pingsan. Chalia sedikit khawatir dengan barang-barang yang baru saja ia keluarkan. Tetapi karena nyawa lebih penting, maka Ia serahkan semua pada Tuhan, dan terus berlari ke arah Utara menuju masjid. Orang-orang berdesak-desakan menaiki tangga masjid. Chalia kemudian tidak ikut naik ke masjid. Ia mengajak teman-temannya menuju kantor polisi terdekat. Murti dan Rini terpisah, karena mereka tetap berdiri di dekat masjid. Tinggal berempat, mereka terus berlari ke arah Utara. Bergandengan tangan seakan takut terlepas dan berpisah, Chalia, Yanti adiknya, dan kedua sahabatnya yaitu Itong dan Idong terus berlari. Hingga tiba di dekat petugas polisi yang sedang sibuk mengatur kendaraan yang panik karena akan adanya tsunami.
“Ayo kita tanya polisi itu!” suara Chalia lirih.
Tidak ada yang menjawab. Ternyata mereka sedang menahan tangis karena ketakutan.
Chalia tidak memerdulikannya lagi. Ia yakin, ketiga temannya itu selalu akan mengikutinya. Ia yang biasanya sangat takut dengan polisi, dalam keadaan seperti itu ia seperti tidak sadar sudah berdiri di hadapan Pak Polisi. Ia berjalan mendekati Polisi yang membawa walkey talkey.
“Maaf Pak… ap-a ad-a tsu-na-mi Pak?” suara Chalia gemetar.
“Tidak ada, Mbak. Jangan panik. Ini langsung dari Kretek wilayah dekat laut, bahwa tidak ada tsunami. Jangan terpancing isu Mbak. Ini hanya isu dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab!” jelas Polisi itu meyakinkan.
“Tu dengar sendiri kan!? Gak ada tsunami. Kita duduk dekat sini saja sambil menunggu kabar selanjutnya!” perintah Chalia sambil duduk di pinggir trotoar jalan.
Mereka kemudian duduk sambil melihat lalu lalang kendaraan yang terlihat panik. Baru terlihat bahwa rumah-rumah sekitar pinggiran jalan banyak yang roboh. Hal itu semakin membuat kaget dan panik Chalia dan teman-temannya. Apalagi kendaraan bermotor dan mobil bergerak tak teratur dengan kecepatan tinggi menghindari isu datangnya tsunami.
Setelah beberapa waktu, hampir satu jam dengan teriakan dan aba-aba dari pihak kepolisian yang jumlahnya sangat sedikit, dipastikan tidak ada tsunami, warga sedikit demi sedikit bergerak kembali ke tempat atau rumahnya masing-masing. Masih tetap menggandeng tangan Ida, Chalia mengajak ketiganya untuk kembali.
“Mari kita pulang. Kita beresi barang-barang yang masih bisa kita bawa. Kita kumpul bersama saja di satu tempat. Kalau nanti kondusif, kita pulang kampung, OK?” Tidak ada jawaban. Tetapi Chalia melihat ketiganya itu mengangguk.
Ternyata banyak orang yang kembali juga ke rumah mereka. Di sepanjang jalan yang tadi dipenuhi oleh kendaraan dan mobil dengan orang-orangnya, kini ramai dipenuhi pejalan kaki. Ada canda tawa, tetapi masih saja terlihat ketakutan di sana-sini. Ia melihat Yani. Yani pun langsung memeluknya.
“Gimana Mbak Chalia. Aku tadi sudah siap mau ke tempat Mbak Chalia. Tapi karena ada gempa, aku jadi panik dan lari bersama teman-teman ke luar. Tahu gak Mbak, aku tu ingat kata-kata Mbak Chalia tadi malam.”
“Emang aku ngomong apa Yan?”
Yani menirukan kata-kata Chalia tadi malam. “Ya pagi aja, tapi kalau Tuhan mengizinkan lho. Takutnya ada apa-apa. Terus aku kan menjawab “Ah, Mbak jangan ngomong gitu donk.”
“Oh aku ngomong gitu to? Habis tadi malam itu aku sedikit merasa aneh aja suasananya. Kok di luar sepi sekali…. mana Merapi lagi aktif, sungguh kupikir itu tadi gempa dari Merapi lho. Tetapi katanya bukan.”
“Udah ya Mbak, kita berpisah di sini. Aku mau pulang ke Gamping,” potong Yani cepat.
“Ya, hati-hati. Kalau Tuhan mengizinkan, kita akan menyelesaikan skripsianmu dan juga oh ya… Maman bagaimana?”
“Nggak tahu Mbak. Dari tadi aku nggak melihatnya.”
“Ya sudah… nanti ku-SMS saja dia. Mudah-mudahan dia selamat.
Tiba di rumah kos, Chalia melihat satu keluarga tetangganya berkumpul dan duduk di pinggir jalan dekat tikungan. Ida yang kebetulan bertemu temannya, bergegas memberesi barang-barang pentingnya. Ia ikut temannya menuju ke Jombor, sedangkan Chalia, Yanti, dan Itong kembali ke kos. Kebetulan hanya nomor Chalia yang aktif. IM3 masih ada sinyal. Walau kadang-kadang ada gangguan.                  Ia mendapat pesan pendek dari sahabatnya dari Magelang :
Mbak, sing sabar ya. Gempa besar tadi bukan dari Gunung Merapi, tetapi dari laut Selatan. Sing ati-ati. Nanti kukabari lagi.”
Semua panik. Jangan-jangan ada tsunami. Tiba-tiba hp Chalia berbunyi. “Ha-lo….” Suara Chalia tersendat-sendat panik.
“Halo, mba-kk bi-sa bica-ra dengan Ita?” suara dari seberang tak kalah paniknya.
“Tong, ayahmu!”
Itong yang sedang duduk langsung berdiri dan mengambil alih telepon Chalia.
“Halo Pak. Pak…aku takut sekali,” Ita menangis.
Chalia melihat raut wajah Ita yang sudah basah oleh air mata.           Ia berusaha menceritakan keadaan setelah terjadinya gempa.
“Tong, cepat jelaskan semuanya. Baterainya mau habis!” bisik Chalia lirih. Ia khawatir hpnya mati, karena dari semalam belum di charge. Paling tidak untuk keadaan darurat seperti sekarang ia sangat membutuhkan komunikasi dengan daerah luar, karena seketika jaringan telepon genggam mati dan lampu padam. Tapi ibu dan keluarga Chalia sudah mengetahui keadaan adik dan dirinya.
Siang itu setelah beberapa kali terjadi gempa susulan, sekitar jam 11.30 WIB, keluarga Itong datang menjemput. Tak berapa lama, Rini nekad pergi ke terminal. Hanya tinggal Chalia, Yanti, dan Murti bersama tetangga yang sudah bergabung di halaman depan rumah ibu kosnya. Berita dari radio yang langsung terdengar kepunyaan tetangga memberitakan gempa yang terjadi banyak memakan korban. Korban terbesar berasal dari daerah Bantul.
Chalia masih belum tau langkah apa yang harus diambil. Apakah langsung pulang, atau bertahan. Ia dan Yanti adiknya ikut berkumpul di jalan raya yang berada di depan rumah Bu Leman. Baru beberapa langkah suara bib…bib…tanda baterai handphonenya melemah. Ia kebingungan bagaimana mengecas, karena listrik semuanya padam. Kerusakan yang parah karena gempa tidak memungkinkannya untuk mendapatkan tenaga baterai lagi.
Tiba-tiba Ana putrinya Bu Leman menegur di samping tembok rumah yang sedang ia senderi. “Mbak, Mbak lagi apa tadi pas gempa?” suara Ana membuat Chalia menoleh ke arah gadis cantik berkaca mata itu.
Lagi tidur, Na. Malam tadi aku begadang membaca. Lupa nggak ngecas handphone. Sekarang hp ku mati.” Wajah Chalia bingung.
“Oh, pakai punyaku aja, Mbak.” Ana menawarkan dengan lembut.
“Lho, bukannya kamu pakai?”
“Aku ada hand phone Nokia yang satu lagi. Kebetulan tidak dipakai dan baru aja aku charge.”
Tanpa berpikir panjang lagi, Chalia pun mengangguk. Ia lega mendapatkan pertolongan Ana. Ia terima hand phone Nokia yang lumayan baru. Poliponik, bagus suaranya. “Ah, jangankan baru. Yang lama aja asal bisa dipakai sudah anugerah bagiku,” batin Chalia senang. Sambil mengganti kartu yang ada di dalam hand phone tersebut dengan kartunya, ia memandang Ana sambil tersenyum.  Tiba-tiba ia teringat Azizah, mahasiswa dari Medan yang cukup akrab dengannya.
“Lho, Na… dimana Sizie. Kok nggak kelihatan?”
“Oh, Mbak Sizie?... Lucu lho Mbak…,” Ana tertawa sambil menutupi mulutnya dengan tangan kirinya.
Chalia melihat wajah Ana tertawa terbahak-bahak jadi penasaran. Ia menunggu Ana bercerita dengan sabar.
“Mbak, Mbak Sizie kan juga sedang tidur. Ia cuma pakai daster singlet panjang, baju dalaman aja pas tidur. Nah ketika gempa datang, ia buru-buru keluar tanpa pikir panjang lagi, lari tunggang langgang ke arah jalan. Nah, kami semua lari juga. Aku juga nggak sadar apa yang ku pakai. Begitu kami balik ke rumah lagi, kami berkumpul sambil menunggu kemungkinan yang terjadi. Ketika orang-orang berkumpul di sini tadi, aku melihat Mbak Sizie ikut berdiri berkumpul dengan orang-orang. Ada cowok-cowok anak kos itu lho Mbak. Aku melihat Mbak Sizie itu cuma pakai singlet panjang, terus BHnya itu keluar-keluar. Mana badannya itu kan gemuk, jadi aneh to Mbak.”
Chalia berusaha menahan tertawanya. Yanti malah sudah tertawa terbahak-bahak sebelum Ana selesai bercerita. “Lalu kamu bilang apa, Na?” tanya Chalia tak sabar.
“Aku bilang sambil berusaha berbisik…. Mbak Sizie, Mbak…. kamu cuma pakai daster tipis thok. Sana ganti dulu, Mbak.”
“Lalu?” ganti Yanti yang bertanya.
“Mbak Sizie melihat ke bawah, sambil berteriak Astafirullah!!”
“Ia juga kaget sendiri, lalu cepat-cepat kabur melesat ke arah kamarnya. Ia lari cepat sekali Mbak. Ipel-ipel gitu lho.”
“Ha ha ha…. Sizie … Sizie. Emang dalam keadaan kaget siapa yang bisa mengira dan bersiap-siap berpakaian rapi, ya….”
Chalia melihat Sizie keluar dari rumah Ana sambil tertawa-tawa sendiri. “Mbak, aku malu e Mbak. Tadi nggak sadar lho aku.”
“Udah nggak apa-apa. Tadi aku juga melihat ada cewek masih pakai handuk habis mandi, rambutnya masih ada shamponya.                    Ia juga cuek jalan ke sana ke mari. Yang penting kita selamat, Zie.”
Hingga sore hari, Chalia masih sangat ketakutan. Adik dan sahabatnya Murti sudah bisa makan, sedangkan ia sama sekali tidak bisa memakan sesuatu apapun. Ia yang jago makan nggak berdaya dengan musibah besar yang baru pertama kali ia alami. Ia merasakan keajaiban dari Yang Maha Kuasa. Bukan karena ia bisa selamat dari bencana alam tersebut, tetapi keajaiban di saat-saat ia terjebak dari dalam rumah yang sama sekali sulit untuk dibuka, seperti ada bisikan yang kuat yang membuatnya tersadar dari kepasrahan. Bisikan yang memberi semangat padanya untuk segera berlari. Dalam benaknya ia berkata-kata, “Ah, Engkau sungguh masih bersabar terhadapku Tuhanku. Aku yang selalu nakal dan tidak patuh, aku yang berdosa, aku yang tidak layak berada di hadapan-Mu karena kenakalanku, tetapi Engkau juga yang memberiku hidup… terima kasih Tuhanku.”
Suara pesan SMS terdengar. Cepat-cepat Chalia buka, ternyata dari temannya, Pri mahasiswa PBSI yang juga sedang mengerjakan skripsi dengannya. Ia menanyakan keadaan Chalia dan teman-temannya. Chalia merasa lega masih dapat berhubungan dengan sahabat dekatnya itu. Pri mengajaknya pulang, tetapi Pri kebingungan karena bahan bakar untuk mobilnya habis. Sudah dicari dimana-mana tetapi kosong hasilnya.
Hujan rintik-rintik dan tikar-tikar yang baru saja ditaruh di halaman kembali tergulung. Hingga larut malam, petir dan halilintar serasa menambah lengkap ketakutan Chalia. Ia tidak dapat memejamkan matanya. Gempa kecil masih saja terjadi. Hujan yang semakin deras membuat teman-teman Chalia semakin bergerombol duduk di ruang tamu. Agak sedikit bocor, tetapi mereka seperti tidak perduli.
Tiba-tiba, gempa datang lagi. Semua terlonjak, “Ya Tuhan, beri jalan…. Ampuni aku Tuhan, aku sangat ketakutan,” jerit hati Chalia.
Keajaiban yang biasa dialaminya tiba-tiba saja hadir. Pri datang membangunkannya.
“Mbak, ayo kamu ikut pulang aku gak?”
“Lho katanya bahan bakarnya habis Pri?” tanya Chalia heran dan tak percaya.
“Iya, tapi ibuku udah datang bawa mobil juga. Jadi mobilku lagi dicarikan bensin oleh sopirku. Ayo, Mbak.” Pri mengajak Chalia dan adiknya Yanti untuk pulang. Dilihatnya jam telah menunjukkan pukul 2.30 WIB. Tanpa pikir panjang, tas punggung yang sudah siap sedari tadi ia bawa keluar dari rumah kos. Pri yang memegang payung seakan mengerti isyarat mata Chalia yang memandangnya dan kemudian mengedip mengisyaratkan untuk berjalan menuju ke tempat di mana ibu kos duduk bergerombol dengan anak dan cucunya.
“Bu saya mau pulang dulu.”
“Lho kok jam segini, sama siapa Nak Chalia?” suara anak ibu kos kaget.
“Ini sama teman saya. Kebetulan rumahnya dekat dengan rumah saya, di Cepu Mas.”
“Oh kalau begitu hati-hati, ya.”
Bertiga mereka bergegas menuju ke tempat mobil Pri berada. Di sana sudah ada ibu dan ayah Pri, sopir dan sahabat dekat Pri. Chalia yang masih nampak shok menjabat tangan ibu Pri dengan gemetar.
“Bu, saya temannya Pri.”
“Oh, ya. Pri sudah cerita, katanya temannya ada yang mau ikut. Rumahnya Padangan to Mbak?”
“Iya Bu. Terima kasih sebelumnya, kami dapat ikut mengungsi bersama Pri dan keluarga.
“Ah, jangan sungkan Mbak. Pri banyak cerita tentang Mbak . . . sapa tadi namanya?”
“Chalia,” kali ini Pri yang menjawab.
“Oh ya, Mbak Chalia. Ibu senang, karena kalian semua terutama anakku Pri selamat. Dari rumah tadi saya sampai nekad datang kemari untuk menjemput anakku satu-satunya sama ini lho Mbak, temannya Pri sudah kenal belum, Titus namanya.”
“Chalia memandang wajah teman Pri yang bernama Titus. Ada luka di dahinya. Katanya terbentur dinding pintu saat hendak membuka pintu kamarnya yang masih terkunci.
“Sudah semua to Pri, ayo lek ndang mangkat. Nanti ada gempa lagi aku tambah ketakutan lho.”
Semua tertawa mendengar kata-kata ibu Pri yang terlihat panik namun lucu, karena ia bercerita dengan sesekali membetulkan rambut keritingnya yang telah basah oleh air hujan. Akhirnya Chalia bersama keluarga Pri berangkat menuju Cepu. Dalam perjalanan, Chalia masih tidak percaya ia bisa selamat oleh gempa yang berkekuatan 5,9 skala richter, yang bergerak selama 57 detik itu. “Terima kasih Tuhan, Engkau masih memberi kepercayaan kepadaku untuk mengisi hari-hariku di dunia ini sesuai dan lebih lagi seperti kehendakMu. Semoga semua berjalan sesuai dengan kehendakMu semata. Amien.”

Chiechie Jaroch Rianto



No comments:

Post a Comment