Showing posts with label Bhs Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Bhs Indonesia. Show all posts

Sunday, January 17, 2016

Emosi Tokoh Utama dalam Novel Berhala-Berhala Haji Karya Puguh P.S. Admaja




ABSTRAK


Emosi dalam kehidupan mudah dialami seseorang akibat reaksi yang timbul dari pengalaman menghadapi permasalahan hidupnya. Emosi dalam kehidupan seringkali dijadikan acuan oleh pengarang, khususnya pengarang novel dengan menampilkan tokoh utama yang memiliki emosi tertentu dalam menghadapi permasalahan hidup. Salah satu novel yaitu novel Berhala-Berhala Haji karya Puguh P.S. Admaja dipilih untuk penelitian berdasarkan beberapa pertimbangan dan alasan. Pertama, novel Berhala-Berhala Haji merupakan salah satu novel yang isinya penuh dengan permasalahan sehingga menimbulkan emosi pada tokoh utama. Kedua, novel ini merupakan karya pertama Puguh P.S. Admaja yang beredar di bulan Oktober 2012, sepengetahuan penulis belum banyak yang mengkaji novel ini. Ketiga, novel Berhala-Berhala Haji banyak memberi pesan dan harapan bagi pembaca bahwa setiap orang harus lebih mencintai Allah swt. daripada apapun masalah yang ada. Hal itu diperlihatkan dengan bentuk emosi yang terlihat pada tokoh utamanya dalam menghadapi setiap permasalahan hidup. Oleh karena itu, penelitian ini diteliti dengan kajian psikologi sastra dengan tujuan untuk memperoleh jawaban mengenai: (1) macam-macam emosi berdasarkan aktivitas tokoh utama; dan (2) cara mengatasi emosi tokoh utama dalam novel Berhala-Berhala Haji karya Puguh P.S. Admaja.

Monday, September 21, 2015

Kajian Struktural: Analisis Teks Lagu-Lagu Rossa





ABSTRAK

Analisis struktural sajak adalah analisis sajak ke dalam unsur-unsurnya dan fungsinya dalam struktur sajak dan penguraian bahwa tiap unsur itu baru mempunyai makna hanya dalam kaitannya dengan unsur-unsur lainnya, bahkan juga berdasarkan tempatnya dan struktur. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui penggunaan unsur-unsur pembangun puisi yang berupa unsur fisik dan unsur batin, (2) mengetahui gambaran sosok wanita yang terdapat dalam teks lagu Rossa.
Populasi dalam penelitian ini adalah 29 judul teks lagu-lagu penyanyi Rossa. Metode pengambilan sampel adalah purposive sampling. Adapun yang menjadi sampel penelitian adalah 6 judul teks lagu yaitu (1) “Tegar”, (2) “Putri Malu”, (3) “Malam Pertama”, (4) “Perawan Cinta”, (5) “Pudar”, dan (6) “Cintai Aku”. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskripsi dan metode studi pustaka. Analisis data menggunakan teknik deskriptif kualitatif berlandasrkan teori struktural, sedangkan instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa seperangkat konsep tentang teori struktural puisi dan unsur-unsur pembangunnya.
Hasil penelitian terhadap teks lagu-lagu penyanyi Rossa dalam kajian struktural dapat menghubungi kontak person di nomor handphone yang tertera di atas atau silahkan mengirimkan email di kontak kami.

Friday, September 4, 2015

Idiom Bahasa Indonesia pada Harian Kedaulatan Rakyat



 

 ABSTRAK

Makna idiomatikal adalah makna yang terdapat dalam idiom. Idiom  merupakan konstruksi unsur-unsur bahasa yang saling memilih. Masing-masing anggota mempunyai makna yang ada hanya karena bersama yang lain. Penggunaan idiom bahasa Indonesia seringkali menimbulkan kesulitan dalam mengerti maknanya, karena idiom muncul dari kebiasaan-kebiasaan setempat dalam mengungkapkan. Penelitin ini dipilih dengan tujuan untuk mendeskripsikan (1) bentuk idiom, (2) jenis-jenis idiom, (3) makna yang terkandung dalam idiom, dan (4) model pembelajaran idiom di SMA.
Subjek dalam penelitian ini adalah wacana harian Kedaulatan Rakyat Edisi Mei 2010, sedangkan objek dalam penelitian ini adalah idiom bahasa Indonesia yang terdapat pada semua tulisan harian Kedaulatan Rakyat Edisi Mei 2010. Metode yang digunakan untuk memperoleh data adalah metode baca catat. Metode baca  yang dimaksud adalah suatu metode yang dilakukan dengan cara membaca secara keseluruhan dan mencermati semua tulisan pada harian Kedaulatan Rakyat Edisi Mei 2010. Setelah dicermati kemudian penulis mengumpulkan kata-kata yang termasuk idiom bahasa Indonesia. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kartu data. Metode analisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah metode padan yang alat penentunya berupa tulisan.
Hasil penelitian dapat menghubungi kontak person kami.

Wednesday, June 3, 2015

Di Antara Kita




Kudengar suara angin berdesir dalam suatu nyanyian alam yang melintasi malam
Mengiring doa-doa yang kupanjatkan pada Tuhan Pencipta Yang Maha Kuasa
Yang selalu mendengar setiap pinta kita dengan telinga yang bijaksana

Kekasih dambaan ku tercinta, mari datang kepadaNya sambil melepas tanya
Mengapa cinta kita yang telah lama ada selalu penuh dengan amarah dan prasangka
Apakah karena kita manusia biasa yang mudah alpa dan melupakannya

dan semoga di antara kita membentang kasihNya yang akan memberi rasa damai sejahtera
dan kudamba di antara kita menyala terangNya yang akan menerangi jalan kehidupan kita

Monday, April 27, 2015

SEJARAH FONOLOGI



Fonologi adalah subdisiplin ilmu linguistik yang mempelajari bunyi bahasa secara umum, baik bunyi bahasa yang memperdulikan arti (fonetik) maupun tidak (fonemik). Setiap penutur mempunyai kesadaran fonologis terhadap bunyi – bunyi dalam bahasanya. Penutur Bahasa Indonesia melafalkan secara tidak sama bunyi [r] dalam kata krupuk dan gratis. [r] pada kata pertama tak bersuara, sedangkan pada kata kedua bersuara. Demikian pula halnya dengan dua macam [l] dalam kata bahasa Inggris staple dan table ; atau dalam kata bahasa Perancis peuple ‘rakyat’ dan lutte ‘perjuangan’. Meskipun demikian, para penutur ketiga bahasa tersebut menyadari bahwa kedua macam bunyi itu mewakili realitas yang sama dan fungsi yang sama pula. Hal ini disebut intuisi fonologis.
Intuisi fonologis sudah teridentifikasi sejak dahulu. Robins dalam Suryo Baskoro menggambarkan bahwa pada sebuah teks bahasa islandia abad keduabelas, V panjang dibedakan dengan yang pendek, demikian pula dibedakan antara K panjang dengan K pendek. Kasus ini menunjukan adanya masalah pada penyesuaian sistem ortografi ke dalam sistem fonologi. Keterhubungan antara realitas fonologis dan simbol grafis antara fonem dan grafem membuat ortografi diperlukan dalam penerapan analisis fonologi.

Thursday, November 6, 2014

Analisis Tema dan Fakta Cerita Novel Layang-Layang Putus Karya Masharto Alfathi (Sebuah Kajian Struktural)





 ABSTRAK
Ari Dwiatmoko


Penelitian ini berjudul Tema dan Fakta Cerita dalam Novel Layang-Layang Putus Karya Masharto Alfathi (Sebuah Kajian Struktural) yang bertujuan untuk memperoleh jawaban mengenai: (1) tema, (2) fakta cerita, dan (3) keterkaitan tema dengan fakta cerita yang terdapat dalam novel Layang-Layang Putus karya Masharto Alfathi. Peneliti memilih novel Layang-Layang Putus karya Masharto Alfathi, antara lain karena novel ini berisi tentang perjuangan orang-orang difabel (kemampuan berbeda/cacat) yang ingin meraih cita-cita sehingga sejajar dengan orang lain dan ingin mendapatkan bukti-bukti yang jelas tentang unsur-unsur yang membangun novel tersebut terutama tema dan fakta cerita.

Thursday, October 23, 2014

Pindah Alam Dunia



Aku bermimpi aku hilang
Kamu pun khawatir
Tetapi tidak akan ada yang mendengar
Karena tidak ada yang peduli

Setelah mimpi itu, aku jadi selalu takut
Apa aku hidup
Kapan aku selesai (mati) ?

Maka jika kamu bertanya, aku ingin kamu tahu
Jika waktuku telah tiba, lupakan kesalahan yang pernah aku lakukan baik sengaja maupun tidak
Bantu aku untuk meninggalkan sesuatu alasan yang perlu untuk ditinggalkan

Jangan hilangkan aku ketika kamu merasa kosong,
Jaga aku dalam memorimu
Tinggal yang terkenang saja
Jangan takut akan aku bawa apa yang kulakukan
dan akan kubagikan apa yang telah dilakukan
Aku kelihatan kuat padahal tidak demikian
Karena aku adalah manusia yang tidak sempurna, demikian juga kamu

Presiden Baruku



Doa ini untukmu pemimpin baruku...
Tiap lantunan doa, semoga diijabahNya
Selalu sehat, kuat, dan sesuai ridaNya
Kesuksesan akan menjadikanmu sejarah

Saturday, October 11, 2014

”Penggunaan Media Kartun dalam Pembelajaran Berbicara pada Siswa Kelas VII



ABSTRAK

Keterampilan berbicara merupakan salah satu keterampilan yang menuntut siswa aktif. Penggunaan media yang cocok agar siswa aktif salah satunya menggunakan media kartun. Media kartun berfungsi untuk tujuan instruksi. Informasi yang terdapat dalam media kartun melibatkan siswa, baik dalam benak atau mental maupun dalam bentuk aktivitas yang santai sehingga pengajaran dapat terjadi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan dan peningkatan pembelajaran keterampilan berbicara sebelum dan sesudah menggunakan media kartun pada siswa kelas VII MTs Negeri 1 Klirong Kabupaten Kebumen tahun pelajaran 2009/2010.

Wednesday, September 17, 2014

Kajian Intertekstual



Kajian terhadap beberapa karya sastra baik sastra lisan maupun tulisan, dapat dilakukan dengan membandingkan karya-karya tersebut. Culler (dalam Nurgiyantoro) menyatakan berdasarkan pengalaman kesusastraannya, pembaca akan dapat mengidentifikasikan unsur-unsur teks lain pada karya yang baru. Intertekstualitas berkaitan dengan sikap pembaca dalam membaca teks sastra. Ia akan membimbing pembaca untuk

Kajian Intertekstual Novel Saman dan Wisanggeni Sang Buronan






ABSTRAK


Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) tema, (2) persamaan dan perbedaan penokohan pada tokoh Wisanggeni, (3) persamaan dan perbedaan peristiwa pada tokoh Wisanggeni dalam novel Saman karya Ayu Utami dengan novel Wisanggeni Sang Buronan karya Seno Gumira Ajidarma, dan (4) ingin mengetahui novel mana yang menjadi teks transformasi dan hipogram dengan menggunakan kajian intertekstual. Kedua novel tersebut dipilih dengan alasan sebagai berikut. (1) Adanya nama tokoh yang sama di dalam kedua novel yaitu novel Saman karya Ayu Utami dan novel Wisanggeni Sang Buronan karya Seno Gumira Ajidarma, (2) persamaan dan perbedaan yang ditemukan dalam penelitian menimbulkan banyak pertanyaan dan menarik untuk dikaji, (3) terdorong oleh praanggapan menemukan kemungkinan-kemungkinan baru dalam novel Saman karya Ayu Utami dan Wisanggeni Sang Buronan karya Seno Gumira Ajidarma.

Thursday, September 11, 2014

Relasi Sintagmatik dan Paradigmatik Cerita dalam Cerpen "Perempuan Beo” Karya Maltuf A Gungsuma



BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang Masalah
  Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan juga diimbangi oleh kemajuan seni, terutama dalam sastra. Sastra berhubungan erat dengan masyarakat, karena diciptakan oleh pengarang yang juga anggota masyarakat. Menurut (Jabrohim, 2011), beragam makna yang tersaji dalam karya seni dapat dimanfaatkan secara praktis dan pragmatis bagi kehidupan baik pada sifat yang etis, terapis, kritis, maupun konseptualis.

Wednesday, September 10, 2014

Nilai-Nilai Moral Novel Lintang Kemukus Dini Hari



Nilai-nilai Moral Novel Lintang Kemukus Dini Hari Karya Ahmad Tohari. 


ABSTRAK

Novel merupakan salah satu bentuk karya sastra yang diminati untuk pengkajian sastra baik dalam perkuliahan maupun seminar. Novel LKDH adalah novel yang ditulis oleh Ahmad Tohari. Novel LKDH menarik untuk diteliti dari sudut pandang nilai-nilai moral. Penelitian dilaksanakan untuk mengetahui nilai-nilai moral, bagaimana moral tokoh dan perbuatan moralitas tokoh utama yang terdapat dalam novel LKDH karya Ahmad Tohari.       

Friday, September 5, 2014

Membedakan Penulisan Partikel 'Pun' yang Dipisah dan Disambung




A.    Latar Belakang Masalah
Bahasa sangat penting bagi alat komunikasi manusia, baik bahasa tulis maupun bahasa lisan. Demi kelestarian bahasa masyarakat harus mampu menjaganya sebaik mungkin. Menjaga dalam bahasa tulis berarti menggunakannya sesuai dengan aturan yang berlaku dalam bahasa, sedangkan dalam bahasa lisan, menjaganya berarti menggunakannya.
Sesuai dengan judul makalah ini, maka pembahasannya hanya ditekankan pada bahasa tulis, khususnya penulisan partikel “pun”. Hal ini karena banyaknya kesalahan yang dilakukan oleh para penulis dalam menuliskan partikel “pun” yang seharusnya ditulis serangkai maupun terpisah. Kita, sebagai para bahasawan harus mengetahui benar mana penulisan yang salah dan mana yang benar. Kitalah yang menjadi tonggak keberlanjutan bahasa Indonesia. Apabila kita yang bergelut dengan bahasa setiap hari saja tidak mampu menggunakan bahasa tulis dengan benar, apalagi masyarakat yang notabene hanya sebagai pengguna bahasa. Untuk itu, maka dibuatlah makalah ini, walaupun sangat ringkat dan kami yakin sangat jauh dari sempurna, tapi kami berharap dengan membaca makalah ini masyarakat umumnya dan para bahasawan khususnya menyadari bahwa ada aturan yang harus ditaati dalam menulis partikel “pun”, yang dibutuhkan dalam menulis bukan hanya asal ringkas dan benar maknanya tetapi juga benar dalam penulisannya. Himbauan kami, marilah kita memasyarakatkan bahasa tulis dengan baik dan benar. Dengan demikian, maka bahasa Indonesia akan lestari.

B.     Tujuan
Secara ringkas, tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.
1.      Menyebutkan macam-macam partikel “pun”.
2.      Menunjukkan aturan yang benar dan baku dalam penulisan partikel “pun”.
3.      Memberi contoh yang benar penggunaan partikel “pun”.
 
C.    Pembahasan
Seperti telah disebutkan dalam tujuan, maka pembahasan awal makalah ini adalah tentang macam-macam partikel “pun”. Menurut J.S. Badudu dalam bukunya “Inilah Bahasa Indonesia yang Benar”, ada tiga macam partikel pun, yaitu :
1.      Partikel pun yang merupakan klitika, yaitu unsur yang melekat pada unsur yang lain, dengan perkataan lain pun yang melekat pada kata yang mendahuluinya. Sebagai klitika kata-kata itu ialah: adapun, andaipun, ataupun, maupun, bagaimanapun, betapapun, kalaupun, meskipun, sekalipun, biarpun, sungguhpun, walaupun, kendatipun. Kata-kata seperti ini termasuk jenis kata tugas yaitu kata-kata yang berfungsi penghubung atau pengantar kalimat.
Contoh pemakaiannya dalam kalimat :
-       Adapun maksudnya datang kemari ialah untuk mengundang Ibu dan Ayah menghadiri pesta pernikahannya.
-       Kalaupun Anda mau, atasan Anda tidak akan memberi Anda izin.
-       Walaupun ia kaya dan berkedudukan, tidaklah ia sombong.
2.      Partikel pun yang berfungsi sebagai kata penuh yaitu yang bersinonim dengan kata juga.
Contohnya :
-       Selain keluarga, sahabat dan kenalan pun diundangnya. (= sahabat dan kenalan juga)
-       Andai pun jadi kau menikah dengannya, kau takkan bahagia.
-       Baik ibu maupun ayah, semuanya tidak ada yang menyetujui hubunganku dengannya.
-       Menangis ataupun menjerit takkan menyelesaikan masalah.
-       Bagaimanapun tegar hatinya dia tetap seorang gadis.
-       Betapapun kuat perasaan ini semuanya harus berakhir.
-       Meskipun kau kejar sampai ke ujung dunia, kalian tetap tidak akan pernah bersama.
-       Sekalipun pemerintah menolak untuk bekerjasama, rakyat tetap berdemo di depan istana.
-       Biarpun hujan, para peserta tetap terlihat antusias.
-       Sungguhpun perasaan dapat mengalahkan naluri, kita harus tetap bisa berpikir sehat.
-       Kendatipun cuaca buruk, mereka tetap berangkat juga.
Apabila kita cermati pada pun yang merupakan klitika, terdapat kata bagaimanapun sebagai salah satu contoh kata yang ditulis serangkai. Itu berarti pun juga ditulis serangkai apabila didahului oleh kata tanya (interogativa) seperti apa, kapan, siapa, dan sebagainya menjadi apapun, kapanpun, siapapun.
-       Jangankan engkau, aku pun tidak sanggup menyelesaikan persoalan itu (= aku juga)
3.      Partikel pun yang berfungsi sama dengan kata-kata yang menyatakan perlawanan: meskipun, biarpun, kendatipun, sungguhpun, walaupun.
Contoh penggunaannya dalam kalimat :
-       Diberi pun tak sudi aku menerimanya, apalagi disuruh memberi.                           (= meskipun diberi)
-       Berpisah pun mereka tetap saling cinta, apalagi ketika masih bersama.
(= biarpun berpisah)
-       Mahal pun akan tetap dibelinya, asalkan barangnya bagus. (kendatipun mahal)
-       Cantik  pun  wajahnya  ia  tidak  punya  pacar, apalagi kalu wajahnya buruk. (= sungguhpun)
-       Duduk pun si sakit itu tak sanggup, apalagi disuruh berjalan.
Dari ketiga macam bentuk partikel pun di atas, dapat ditarik kesimpuln, yang juga merupakan aturan dalam penulisan partikel pun, yaitu bahwa pun yang dituliskan terpisah dari kata yang mendahuluinya ialah pun yang menyertai kata kerja, kata ganti, kata benda, dan kata sifat.
Contoh dalam kalimat :
-       Minum pun ia tak mau (minum – kata kerja)
Dihardik pun anak itu takkan menurut. (dihardik – kata kerja)
-       Saya pun tak dihiraukannya lagi  (saya – kata ganti)
Kami pun ingin mengenalnya lebih dekat  (kami – kata ganti)
-       Sebuah akademi pun tidak ada di kecamatan itu (sebuah akademi – kata benda)
Pasar pun hanya ada pada hari Kamis   (pasar – kata benda)
-       Cantik pun bukanlah alasan untuk menjadi sombong  (cantik – kata sifat)
Merah pun  termasuk warna yang disukainya   (merah – kata sifat)

D.    Kesimpulan
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa partikel pun yang ditulis serangkai adalah partikel pun yang merupakan klitika, termasuk yang mendahului kata tanya. Dan partikel pun yang ditulis terpisah adalah partikel pun yang berfungsi sebagai kata penuh (bersinonim dengan kata juga) dan partikel pun yang menyatakan perlawanan. Atau dengan kata lain, partikel pun  yang ditulis terpisah adalah pun  yang menyertai kata kerja, kata ganti, kata benda, dan kata sifat.

DAFTAR PUSTAKA

Badudu, J.S. 1984. Inilah Bahasa Indonesia yang Benar. Jakarta: Gramedia.
Ramlan, M. 1985. Tata Bahasa Indonesia – Penggolongan Kata. Yogyakarta: Andi Offset.