Fonologi adalah subdisiplin ilmu linguistik yang
mempelajari bunyi bahasa secara umum, baik bunyi bahasa yang memperdulikan arti
(fonetik) maupun tidak (fonemik). Setiap penutur mempunyai kesadaran fonologis
terhadap bunyi – bunyi dalam bahasanya. Penutur Bahasa Indonesia melafalkan
secara tidak sama bunyi [r] dalam kata krupuk
dan gratis. [r] pada kata pertama tak
bersuara, sedangkan pada kata kedua bersuara. Demikian pula halnya dengan dua
macam [l] dalam kata bahasa Inggris staple
dan table ; atau dalam kata bahasa Perancis
peuple ‘rakyat’ dan lutte ‘perjuangan’. Meskipun demikian,
para penutur ketiga bahasa tersebut menyadari bahwa kedua macam bunyi itu
mewakili realitas yang sama dan fungsi yang sama pula. Hal ini disebut intuisi
fonologis.
Intuisi fonologis sudah teridentifikasi sejak
dahulu. Robins dalam Suryo Baskoro menggambarkan bahwa pada sebuah teks bahasa
islandia abad keduabelas, V panjang
dibedakan dengan yang pendek, demikian pula dibedakan antara K panjang dengan K pendek. Kasus ini menunjukan adanya masalah pada penyesuaian
sistem ortografi ke dalam sistem fonologi. Keterhubungan antara realitas
fonologis dan simbol grafis antara fonem dan grafem membuat ortografi
diperlukan dalam penerapan analisis fonologi.
Sejarah fonologi dapat dilacak melalui riwayat
pemakaian istilah fonem dari waktu ke waktu. Pada sidang Masyarakat Linguistik
Paris, 24 mei 1873, Dufriche Desgenettes mengusulkan nama fonem, sebagai
padanan kata Bjm Sprachault. Ferdinand De Saussure dalam bukunya “ Memorie Sur
Le Systeme Primitif Des Voyelles Dan Les Langues Indo-Europeennes” ‘memoir
tentang sistem awal vokal bahasa – bahasa Indo eropa ‘ yang terbit pada tahun
1878, mendefinisikan fonem sebagai prototip unik dan hipotetik yang berasal
dari bermacam bunyi dalam bahasa – bahasa anggotanya.
Sejarah fonologi dalam makalah ini akan lebih
mengkhususkan membahas mengenai istilah fonem. Gambaran mengenai perkembangan
fonologi dari waktu ke waktu dapat dilihat lewat berbagai aliran dalam
fonologi.
Aliran Kazan
Dengan tokohnya Mikolaj Kreszewski, aliran ini
mendefinisikan fonem sebagai satuan fonetis tak terbagi yang tidak sama dengan
antropofonik yang merupakan kekhasan tiap individu. Tokoh utama aliran kazan
adalah Baudoin de Courtenay (1895). Menurut linguis ini, bunyi – bunyi yang
secara fonetis berlainan disebut alternan, yang berkerabat secara histiris dan
etimologis. Jadi, meskipun dilafalkan berbeda, bunyi – bunyi itu berasal dari
satu bentuk yang sama. Pada 1880, Courtenay melancarkan kritiknya terhadap
presisi atas beberapa fona yang dianggapnya tidak bermanfaat. Pada 1925, paul
passy mempertegas kritik tersebut.
Ferdinand De Saussure
Dalam bukunya “Cours de Linguistique Generale” ‘Kuliah
Linguistik umum’, Saussure mendefinisikan fonologi sebagai studi tentang bunyi
– bunyi bahasa manusia. Dari definisi tersebut tercermin bahwa bunyi bahasa
yang dimaksud olehnya hanyalah unsur – unsur yang terdengar berbeda oleh
telinga dan yang mampu menghasilkan satuan – satuan akustik yang tidak terbatas
dalam rangkaian ujaran. Jadi dapat dikatakan bahwa Saussure menggunaklan kriteria
yang semata – mata fonetis untuk menggambarkan fonem dan menempatkannya hanya
pada poros sintagmatik.
Lalu Saussure mengoreksinya dan mengatakan bahwa
pada sebuah kata yang penting bukanlah bunyi melainkan perbedaan fonisnya yang
mampu membedakan kata itu dengan yang lain.
Dengan konsep – konsepnya, meskipun tidak pernah
mencantumkan istilah struktur maupun fungsi, Saussure dianggap telah membuka
jalan terhadap studi fonologi yang kemudian diadaptasi oleh aliran Praha.
Aliran Praha
Kelahiran fonologi ditandai dengan “Proposition
22” ‘Usulan 22’ yang diajukan oleh R. Jakobson, S. Karczewski dan N. Trubetzkoy
pada konggres Internasional I para linguis di La Haye, april 1928.
Pada 1932 Jakobson mendefinisikan fonem sebagai
sejumlah ciri fonis yang mampu membedakan bunyi bahasa tertentu dari yang lain,
sebagai cara untuk membedakan makna kata. Jadi konsep fonem merupakan sejumlah
ciri pembeda (ciri distingtif).
Aliran Amerika
Aliran Amerika
Tokoh aliran ini adalah Edward Sapir (1925),
seorang etnolog dan linguis yang terutama meneliti bahasa – bahasa Indian
Amerika. Menurutnya, sistem fonologi bersifat bersifat fungsional. Kiprah Sapir
diteruskan oleh penerusnya dari Yale, Leonard Bloomfield , yang karyanya
“Language” menjadikan dirinya bapak linguistik Amerika selama 25 tahun. Pada
buku itu Bloomfield menjelaskan banyak hal tentang definisi – definisi mutakhir
tentang fonem, istilah ciri pembeda, zona penyebaran fonem, kriteria dasar
dalam menentukan oposisi fonologis dan lain – lain.
Sifat behaviouris dan antimentalis Bloomfield
mengantarkannya pada konsepsi tentang komunikasi sebagai perilaku dimana sebuah
stimulus (ujaran penutur) memunculkan reaksi mitra tutur. Menurutnya, yang
penting dalam bahasa adalah fungsinya untuk menghubungkan stimulus penutur
dengan reaksi mitra tutur. Agar fungsi itu terpenuhi, pada tataran bunyi
cukuplah kiranya jika setiap fonem berbeda dengan yang lainnya. Sehingga zona
penyebaran fonem dan sifat akustiknya bukanlah sesuatu yang penting.
Pada tataran fonologi umum, pionir fonologi Amerika lainnya, W.F Twaddell pada 1935 menerbitkan monografi. Di dalamnya Twaddell menegaskan bahwa satuan – satuan fonologis bersifat relasional.
Pada tataran fonologi umum, pionir fonologi Amerika lainnya, W.F Twaddell pada 1935 menerbitkan monografi. Di dalamnya Twaddell menegaskan bahwa satuan – satuan fonologis bersifat relasional.
Daniel Jones dan Aliran
Fonetik Inggris
Sejak 1907 Daniel Jones mengajar fonetik di
University of London. Setelah itu ia kemudian lebih banyak menggelti praktek
fonologi di Inggris. Kegiatannya di jurusan fonetik di University of college
lebih difokuskan pada transkripsi fonetis dan pengajaran pelafalan bahasa –
bahasa dunia. Perhatiannya pada dua hal itu membuat dirinya memiliki konsep
tersendiri tentang fonem. Pada 1919, dalam “Colloquial Sinhalese Reader” yang
diterbitkannya bersama H.S Parera, Jones memberikan definisi fonem yang berciri
distribusional.
Terinspirasi oleh Baudoin de Courtenay, yang
memakai fonem sebagai realitas psikofonetis, Jones menggambarkan fonem sebagai
realitas mental. Maksudnya, dalam studi tentang sifat alamiah fonem, kita juga
dapat menggunakan baik intuisi, rasa bahasa maupun cara – cara lain yang
bersifat psikologis. Hal ini menunjukkan bahwa Jones lebih suka pada sifat
fonem, alih – alih fungsinya. Dengan sudut pandang seperti itu sebenarnya Jones
sudah memasuki daerah kerja fonologi, dalam analisisnya ia memasukkan data
fonologi tertentu, namun dengan menyingkirkan sudut pandang fonologis.
Roman Jakobson
Roman Jakobson lahir di Moskow pada 1896 dan
meninggal di Amirika Serikat pada 1982. Salah satu ciri tokoh ini adalah tidak
pernah menulis buku yang tebalnya lebih dari 100 halaman. Meskipun demikian,
karyanya yang terpenting “Remarques Sur I’evolution Phonologique Du Russe” ‘Beberapa
Catatan Evolusi Fonologi Bahasa Rusia’, berhasil memicu studi – studi fonologi
yang dikonsentrasikan pada bidang – bidang tertentu.
Menurut Georges Mounin, Jakobson adalah “orang yang selalu memberikan gairah; ia senantiasa cemerlang pada setiap seminar dan konggres”. Sebagai redaktur utama “Proposition 22” dan “Thesis 1929” Jakobson adalah tokoh penggerak yang turut membidani kelahiran fonilogi. Dalam bukunya “Principes de phonologie historique” ‘Prinsip – prinsip fonologi historis’ (1931) Jakobson mencoba untuk :
Menurut Georges Mounin, Jakobson adalah “orang yang selalu memberikan gairah; ia senantiasa cemerlang pada setiap seminar dan konggres”. Sebagai redaktur utama “Proposition 22” dan “Thesis 1929” Jakobson adalah tokoh penggerak yang turut membidani kelahiran fonilogi. Dalam bukunya “Principes de phonologie historique” ‘Prinsip – prinsip fonologi historis’ (1931) Jakobson mencoba untuk :
Mengembangkan analisis berdasarkan ciri pembeda,
Memformulasikan prinsip dikotomi dalam rangka menyusun “kualitas – kualitas
fonologi”. Mensosialisasikan penerapan kriteria akustik guna menentukan masing
– masing kualitas.
B. Perkembangan Fonologi
Tahun 1960-an sampai 1970-an menandai dimulainya
kajian – kajian empiris tentang bahasa Indonesia maupun bahasa – bahasa lain.
Contoh karya – karya yang muncul antara lain :
1.
Artikel tentang fonologi bahasa jawa dan sistem fonem dan ejaan
(1960) oleh samsuri. Ciri – ciri penelitian pada saat itu adalah dipengaruhi
oleh gerakan deskriptivisme, menganut aliran neo Bloomfieldian dan bersifat
behaviouristik, ketat dalam metodologi dan bahasa lisan menjadi objek utama.
2.
Lalu pada tahun 1970an masuk konsep fonem dan wawasan tentang
unsur suprasegmental oleh amran halim, dan Hans Lapoliwa dengan fonologi
generatifnya.
Namun, untuk mengetahui perkembangan mutakhir linguistic Indonesia saat ini diperlukan survey lagi yang lebih mendalam.
Namun, untuk mengetahui perkembangan mutakhir linguistic Indonesia saat ini diperlukan survey lagi yang lebih mendalam.
Daftar Pustaka
Baskoro, Suryo. 2000. Fonologi. Yogyakarta: Program Pasca
Sarjana UGM.
Soeparno.1993. Dasar – Dasar Linguistik. Yogyakarta: Mitra
Gama Widya.
Suparno dan Ola. 1994. Linguistik Umum. Jakarta: Depdiknas
No comments:
Post a Comment