A. Latar Belakang Masalah
Bahasa sangat penting bagi alat komunikasi manusia, baik bahasa tulis
maupun bahasa lisan. Demi kelestarian bahasa masyarakat harus mampu menjaganya
sebaik mungkin. Menjaga dalam bahasa tulis berarti menggunakannya sesuai dengan
aturan yang berlaku dalam bahasa, sedangkan dalam bahasa lisan, menjaganya
berarti menggunakannya.
Sesuai dengan judul makalah ini, maka pembahasannya hanya ditekankan pada
bahasa tulis, khususnya penulisan partikel “pun”. Hal ini karena banyaknya
kesalahan yang dilakukan oleh para penulis dalam menuliskan partikel “pun” yang
seharusnya ditulis serangkai maupun terpisah. Kita, sebagai para bahasawan
harus mengetahui benar mana penulisan yang salah dan mana yang benar. Kitalah
yang menjadi tonggak keberlanjutan bahasa Indonesia. Apabila kita yang bergelut
dengan bahasa setiap hari saja tidak mampu menggunakan bahasa tulis dengan
benar, apalagi masyarakat yang notabene hanya sebagai pengguna bahasa. Untuk
itu, maka dibuatlah makalah ini, walaupun sangat ringkat dan kami yakin sangat
jauh dari sempurna, tapi kami berharap dengan membaca makalah ini masyarakat
umumnya dan para bahasawan khususnya menyadari bahwa ada aturan yang harus
ditaati dalam menulis partikel “pun”, yang dibutuhkan dalam menulis bukan hanya
asal ringkas dan benar maknanya tetapi juga benar dalam penulisannya. Himbauan
kami, marilah kita memasyarakatkan bahasa tulis dengan baik dan benar. Dengan
demikian, maka bahasa Indonesia akan lestari.
B. Tujuan
Secara ringkas, tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai
berikut.
1.
Menyebutkan macam-macam partikel “pun”.
2.
Menunjukkan aturan yang benar dan baku dalam penulisan
partikel “pun”.
3.
Memberi contoh yang benar penggunaan partikel “pun”.
C. Pembahasan
Seperti telah disebutkan dalam tujuan, maka pembahasan awal
makalah ini adalah tentang macam-macam partikel “pun”. Menurut J.S. Badudu
dalam bukunya “Inilah Bahasa Indonesia yang Benar”, ada tiga macam partikel pun, yaitu :
1.
Partikel pun
yang merupakan klitika, yaitu unsur yang melekat pada unsur yang lain, dengan
perkataan lain pun yang melekat pada
kata yang mendahuluinya. Sebagai klitika kata-kata itu ialah: adapun, andaipun, ataupun, maupun,
bagaimanapun, betapapun, kalaupun, meskipun, sekalipun, biarpun, sungguhpun,
walaupun, kendatipun. Kata-kata seperti ini termasuk jenis kata tugas yaitu
kata-kata yang berfungsi penghubung atau pengantar kalimat.
Contoh pemakaiannya dalam kalimat :
-
Adapun
maksudnya datang kemari ialah untuk mengundang Ibu dan Ayah menghadiri pesta
pernikahannya.
-
Kalaupun Anda
mau, atasan Anda tidak akan memberi Anda izin.
-
Walaupun ia
kaya dan berkedudukan, tidaklah ia sombong.
2.
Partikel pun
yang berfungsi sebagai kata penuh yaitu yang bersinonim dengan kata juga.
Contohnya :
-
Selain keluarga, sahabat
dan kenalan pun diundangnya. (=
sahabat dan kenalan juga)
-
Andai pun
jadi kau menikah dengannya, kau takkan bahagia.
-
Baik ibu maupun
ayah, semuanya tidak ada yang menyetujui hubunganku dengannya.
-
Menangis ataupun
menjerit takkan menyelesaikan masalah.
-
Bagaimanapun tegar
hatinya dia tetap seorang gadis.
-
Betapapun kuat
perasaan ini semuanya harus berakhir.
-
Meskipun kau
kejar sampai ke ujung dunia, kalian tetap tidak akan pernah bersama.
-
Sekalipun pemerintah
menolak untuk bekerjasama, rakyat tetap berdemo di depan istana.
-
Biarpun hujan,
para peserta tetap terlihat antusias.
-
Sungguhpun perasaan
dapat mengalahkan naluri, kita harus tetap bisa berpikir sehat.
-
Kendatipun cuaca
buruk, mereka tetap berangkat juga.
Apabila kita cermati pada pun yang merupakan klitika, terdapat kata bagaimanapun sebagai salah satu contoh kata yang ditulis serangkai.
Itu berarti pun juga ditulis
serangkai apabila didahului oleh kata tanya (interogativa) seperti apa, kapan, siapa, dan sebagainya
menjadi apapun, kapanpun, siapapun.
-
Jangankan engkau, aku
pun tidak sanggup menyelesaikan persoalan itu (= aku juga)
3.
Partikel pun
yang berfungsi sama dengan kata-kata yang menyatakan perlawanan: meskipun, biarpun, kendatipun, sungguhpun,
walaupun.
Contoh penggunaannya dalam kalimat :
-
Diberi pun
tak sudi aku menerimanya, apalagi disuruh memberi. (= meskipun diberi)
-
Berpisah pun mereka
tetap saling cinta, apalagi ketika masih bersama.
(=
biarpun berpisah)
-
Mahal pun akan
tetap dibelinya, asalkan barangnya bagus. (kendatipun mahal)
-
Cantik pun
wajahnya ia tidak
punya pacar, apalagi kalu
wajahnya buruk. (= sungguhpun)
-
Duduk pun si
sakit itu tak sanggup, apalagi disuruh berjalan.
Dari ketiga macam bentuk partikel pun
di atas, dapat ditarik kesimpuln, yang juga merupakan aturan dalam
penulisan partikel pun, yaitu bahwa pun yang dituliskan terpisah dari kata
yang mendahuluinya ialah pun yang
menyertai kata kerja, kata ganti, kata benda, dan kata sifat.
Contoh dalam
kalimat :
-
Minum pun ia
tak mau (minum – kata kerja)
Dihardik pun anak itu takkan
menurut. (dihardik – kata kerja)
-
Saya pun tak
dihiraukannya lagi (saya – kata ganti)
Kami pun ingin mengenalnya
lebih dekat (kami – kata ganti)
-
Sebuah akademi
pun tidak ada di kecamatan itu (sebuah akademi – kata benda)
Pasar pun hanya ada pada hari
Kamis (pasar – kata benda)
-
Cantik pun bukanlah alasan untuk menjadi
sombong (cantik – kata sifat)
Merah pun termasuk warna yang disukainya (merah – kata sifat)
D. Kesimpulan
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa partikel pun yang ditulis serangkai adalah
partikel pun yang merupakan klitika,
termasuk yang mendahului kata tanya. Dan partikel pun yang ditulis terpisah adalah partikel pun yang berfungsi sebagai kata penuh (bersinonim dengan kata juga) dan partikel pun yang menyatakan perlawanan. Atau dengan kata lain, partikel pun yang ditulis terpisah adalah pun yang menyertai kata kerja, kata ganti, kata
benda, dan kata sifat.
DAFTAR PUSTAKA
Badudu, J.S. 1984. Inilah
Bahasa Indonesia yang Benar. Jakarta: Gramedia.
Ramlan, M. 1985. Tata
Bahasa Indonesia – Penggolongan Kata. Yogyakarta: Andi Offset.
No comments:
Post a Comment