Friday, September 5, 2014

Membedakan Penulisan Partikel 'Pun' yang Dipisah dan Disambung




A.    Latar Belakang Masalah
Bahasa sangat penting bagi alat komunikasi manusia, baik bahasa tulis maupun bahasa lisan. Demi kelestarian bahasa masyarakat harus mampu menjaganya sebaik mungkin. Menjaga dalam bahasa tulis berarti menggunakannya sesuai dengan aturan yang berlaku dalam bahasa, sedangkan dalam bahasa lisan, menjaganya berarti menggunakannya.
Sesuai dengan judul makalah ini, maka pembahasannya hanya ditekankan pada bahasa tulis, khususnya penulisan partikel “pun”. Hal ini karena banyaknya kesalahan yang dilakukan oleh para penulis dalam menuliskan partikel “pun” yang seharusnya ditulis serangkai maupun terpisah. Kita, sebagai para bahasawan harus mengetahui benar mana penulisan yang salah dan mana yang benar. Kitalah yang menjadi tonggak keberlanjutan bahasa Indonesia. Apabila kita yang bergelut dengan bahasa setiap hari saja tidak mampu menggunakan bahasa tulis dengan benar, apalagi masyarakat yang notabene hanya sebagai pengguna bahasa. Untuk itu, maka dibuatlah makalah ini, walaupun sangat ringkat dan kami yakin sangat jauh dari sempurna, tapi kami berharap dengan membaca makalah ini masyarakat umumnya dan para bahasawan khususnya menyadari bahwa ada aturan yang harus ditaati dalam menulis partikel “pun”, yang dibutuhkan dalam menulis bukan hanya asal ringkas dan benar maknanya tetapi juga benar dalam penulisannya. Himbauan kami, marilah kita memasyarakatkan bahasa tulis dengan baik dan benar. Dengan demikian, maka bahasa Indonesia akan lestari.

B.     Tujuan
Secara ringkas, tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.
1.      Menyebutkan macam-macam partikel “pun”.
2.      Menunjukkan aturan yang benar dan baku dalam penulisan partikel “pun”.
3.      Memberi contoh yang benar penggunaan partikel “pun”.
 
C.    Pembahasan
Seperti telah disebutkan dalam tujuan, maka pembahasan awal makalah ini adalah tentang macam-macam partikel “pun”. Menurut J.S. Badudu dalam bukunya “Inilah Bahasa Indonesia yang Benar”, ada tiga macam partikel pun, yaitu :
1.      Partikel pun yang merupakan klitika, yaitu unsur yang melekat pada unsur yang lain, dengan perkataan lain pun yang melekat pada kata yang mendahuluinya. Sebagai klitika kata-kata itu ialah: adapun, andaipun, ataupun, maupun, bagaimanapun, betapapun, kalaupun, meskipun, sekalipun, biarpun, sungguhpun, walaupun, kendatipun. Kata-kata seperti ini termasuk jenis kata tugas yaitu kata-kata yang berfungsi penghubung atau pengantar kalimat.
Contoh pemakaiannya dalam kalimat :
-       Adapun maksudnya datang kemari ialah untuk mengundang Ibu dan Ayah menghadiri pesta pernikahannya.
-       Kalaupun Anda mau, atasan Anda tidak akan memberi Anda izin.
-       Walaupun ia kaya dan berkedudukan, tidaklah ia sombong.
2.      Partikel pun yang berfungsi sebagai kata penuh yaitu yang bersinonim dengan kata juga.
Contohnya :
-       Selain keluarga, sahabat dan kenalan pun diundangnya. (= sahabat dan kenalan juga)
-       Andai pun jadi kau menikah dengannya, kau takkan bahagia.
-       Baik ibu maupun ayah, semuanya tidak ada yang menyetujui hubunganku dengannya.
-       Menangis ataupun menjerit takkan menyelesaikan masalah.
-       Bagaimanapun tegar hatinya dia tetap seorang gadis.
-       Betapapun kuat perasaan ini semuanya harus berakhir.
-       Meskipun kau kejar sampai ke ujung dunia, kalian tetap tidak akan pernah bersama.
-       Sekalipun pemerintah menolak untuk bekerjasama, rakyat tetap berdemo di depan istana.
-       Biarpun hujan, para peserta tetap terlihat antusias.
-       Sungguhpun perasaan dapat mengalahkan naluri, kita harus tetap bisa berpikir sehat.
-       Kendatipun cuaca buruk, mereka tetap berangkat juga.
Apabila kita cermati pada pun yang merupakan klitika, terdapat kata bagaimanapun sebagai salah satu contoh kata yang ditulis serangkai. Itu berarti pun juga ditulis serangkai apabila didahului oleh kata tanya (interogativa) seperti apa, kapan, siapa, dan sebagainya menjadi apapun, kapanpun, siapapun.
-       Jangankan engkau, aku pun tidak sanggup menyelesaikan persoalan itu (= aku juga)
3.      Partikel pun yang berfungsi sama dengan kata-kata yang menyatakan perlawanan: meskipun, biarpun, kendatipun, sungguhpun, walaupun.
Contoh penggunaannya dalam kalimat :
-       Diberi pun tak sudi aku menerimanya, apalagi disuruh memberi.                           (= meskipun diberi)
-       Berpisah pun mereka tetap saling cinta, apalagi ketika masih bersama.
(= biarpun berpisah)
-       Mahal pun akan tetap dibelinya, asalkan barangnya bagus. (kendatipun mahal)
-       Cantik  pun  wajahnya  ia  tidak  punya  pacar, apalagi kalu wajahnya buruk. (= sungguhpun)
-       Duduk pun si sakit itu tak sanggup, apalagi disuruh berjalan.
Dari ketiga macam bentuk partikel pun di atas, dapat ditarik kesimpuln, yang juga merupakan aturan dalam penulisan partikel pun, yaitu bahwa pun yang dituliskan terpisah dari kata yang mendahuluinya ialah pun yang menyertai kata kerja, kata ganti, kata benda, dan kata sifat.
Contoh dalam kalimat :
-       Minum pun ia tak mau (minum – kata kerja)
Dihardik pun anak itu takkan menurut. (dihardik – kata kerja)
-       Saya pun tak dihiraukannya lagi  (saya – kata ganti)
Kami pun ingin mengenalnya lebih dekat  (kami – kata ganti)
-       Sebuah akademi pun tidak ada di kecamatan itu (sebuah akademi – kata benda)
Pasar pun hanya ada pada hari Kamis   (pasar – kata benda)
-       Cantik pun bukanlah alasan untuk menjadi sombong  (cantik – kata sifat)
Merah pun  termasuk warna yang disukainya   (merah – kata sifat)

D.    Kesimpulan
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa partikel pun yang ditulis serangkai adalah partikel pun yang merupakan klitika, termasuk yang mendahului kata tanya. Dan partikel pun yang ditulis terpisah adalah partikel pun yang berfungsi sebagai kata penuh (bersinonim dengan kata juga) dan partikel pun yang menyatakan perlawanan. Atau dengan kata lain, partikel pun  yang ditulis terpisah adalah pun  yang menyertai kata kerja, kata ganti, kata benda, dan kata sifat.

DAFTAR PUSTAKA

Badudu, J.S. 1984. Inilah Bahasa Indonesia yang Benar. Jakarta: Gramedia.
Ramlan, M. 1985. Tata Bahasa Indonesia – Penggolongan Kata. Yogyakarta: Andi Offset.

No comments:

Post a Comment