Thursday, September 11, 2014

Relasi Sintagmatik dan Paradigmatik Cerita dalam Cerpen "Perempuan Beo” Karya Maltuf A Gungsuma



BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang Masalah
  Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan juga diimbangi oleh kemajuan seni, terutama dalam sastra. Sastra berhubungan erat dengan masyarakat, karena diciptakan oleh pengarang yang juga anggota masyarakat. Menurut (Jabrohim, 2011), beragam makna yang tersaji dalam karya seni dapat dimanfaatkan secara praktis dan pragmatis bagi kehidupan baik pada sifat yang etis, terapis, kritis, maupun konseptualis.

Salah satu pemahaman makna pada sastra dapat dilakukan dengan memfokuskan diri pada penelitian relasi sintagmatik dan paradigmatik. Oleh karena itu, sebagai tugas Prosa Fiksi dan Drama I, penulis ingin meneliti cerpen “Perempuan Beo” karya Maltuf A Gungsuma dengan mencari relasi sintagmatik dan paradigmatik, berdasarkan teori yang diuraikan oleh Bapak Jabrohim.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam makalah ini dapat dirumuskan sebagai berikut.
1.      Bagaimanakah sintagma dalam cerpen “Perempuan Beo”?
2.      Bagaimanakah paradigma dalam cerpen “Perempuan Beo”?

C.    Tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut.
1.      Untuk mengetahui sintagma dalam cerpen “Perempuan Beo”.
2.      Untuk mengetahui paradigma cerita dalam cerpen “Perempuan Beo”

 BAB II
PEMBAHASAN


A.    Sintagma dalam Cerpen “Perempuan Beo”
Sintagma cerita berupa urutan peristiwa yang ada dalam cerpen “Perempuan Beo”. Urutan peristiwa yang dimaksud dibedakan menjadi dua yaitu plot dan fabula. Urutan peristiwa dalam cerpen  “Perempuan Beo” dapat dijelaskan sebagai berikut ini.
1.      Burhanuddin mengetahui bahwa Nila menyayangi dirinya apa adanya (indeks: Burhan mengetahui Nila juga sangat mencintai burung beonya).
1.1  Nila ingin menjadikan Burhan sebagai ayah bagi anak-anaknya (indeks: Burhan juga ingin menjadikan Nila sebagai ibu anak-anaknya).
1.2  Burhan cemburu dengan beo milik Nila (Inf. Waktu sore Nila sering mengajak beonya bersenda gurau).
1.3  Burhan ingin mengajak Nila ke pantai untuk melihat sunset (inf. Waktu sore hari), tetapi Nila selalu menolak (indeks: Burhan merasa kesepian).
1.4  Burhan tidak suka melihat Nila lebih mencintai beo (indeks: Burhan merasa dinomorduakan).
1.5  Burhan tidak mengerti dengan sikap Nila (indeks: Burhan merasa Nila ingin Burhan memahami Nila, tetapi Nila tidak memahami Burhan).
1.6  Burhan mengajak Nila untuk menemaninya (inf. Suatu sore), tetapi Nila malah menawari Burhan untuk bermain dengan beo kesayangannya (indeks: beo merupakan burung yang paling dibenci Burhan melebihi Maya gadis yang pernah mengkhianati cintanya).
1.7  Burung beo menjadi biang kehancuran keluarga Burhan (indeks: burung beo itu yang membuat ayah Burhan menceraikan mamanya).
1.8  Burhan selalu teringat mata merah ayah saat bertatapan dengan burung beo itu (indeks: Burhan ingin melupakan kejadian pahit tentang hancurnya keluarga Burhan).
1.9  Burhan tidak dapat membayangkan malam pertama dengan Nila bila Nila masih merawat beonya (indeks: Burhan teringat masa lalu bila mendengar kicau beo).
2.      Burhan mengetuk pintu Nila (inf. Sore hari), seperti biasa Nila mempersilahkan Burhan masuk karena pintu tidak dikunci (indeks: Burhan melihat Nila duduk dekat sangkar burung beo).
2.1  Burhan bertanya sampai kapan Nila akan seperti itu (indeks: asyik dengan burung beonya terus).
2.2  Burhan mendengar jawaban Nila bahwa sampai takdir memisahkan Nila dan beonya (inf. Nila sudah duduk di sofa yang ada di ruang tamunya).
2.3  Burhan bertanya lagi apa istimewanya burung itu bagi Nila (indeks: Burhan mencoba menenangkan gejolak dalam hatinya).
2.4  Nila menjawab bahwa beo lebih istimewa dibandingkan dengan Burhan yang hanya mengharap kesenangan saja (indeks: burung beo memberi kebahagiaan bagi Nila dan juga beo itu tidak mengharapkan balasan apapun darinya).
2.5  Nila ingin Burhan sedikit mengerti dirinya (inf. Waktu sore).
2.6  Burhan sulit mengerti jalan pikiran Nila (indeks: Burhan mendesah karena belum menemukan rumah cinta Nila untuknya dan merasa cemas akan cintanya).
2.7  Burhan bertanya agar Nila memilih dirinya atau beo ketika keduanya sakit (indeks: Burhan ingin tahu perasaan Nila yang sesungguhnya).
2.8  Nila menjawab bahwa andai Burhan tidak punya akal pikiran tentu ia akan merawat Burhan lebih dahulu karena Burhan memiliki akal pikiran, maka ia lebih memilih merawat beo karena memiliki akal pikiran berarti dapat menjaga diri (indeks: Nila mengerutkan dahi dan menatap tajam Burhan).
2.9  Burhan mengerti jawaban Nila (indeks: Burhan kaget dengan jawaban Nila, tangannya gemetar, wajahnya memerah).
2.10          Burhan pamit untuk pulang dan ia menunggu Nila di tempat biasa (inf. Besok hari).

3.      Burhan menyalahkan beo ketika ia masih kecil (inf. Malam itu) (indeks: Burhan ingat pertengkaran ayah dan mamanya gara-gara beo).
3.1  Burhan kecil berusaha mendengar dari balik pintu pertengkaran orang tuanya.
3.2  Burhan mendengar ayahnya bertanya sambil membentak mengenai laki-laki bernama Reno pada mamanya (indeks: bulu kuduk Burhan merinding).
3.3  Ayah Burhan tidak percaya bahwa Reno teman kerja mamanya karena menurut beo, Reno datang berkunjung ke rumah (inf. saat jam kerja) tidak mungkin tanpa ada maksud tertentu.
3.4  Ayah Burhan tetap mempercayai beonya (inf. beo itu menemani ayah Burhan sejak kecil), walaupun mama Burhan memberitahu bahwa Reno datang bersama istrinya (indeks: mama Burhan kecewa karena suaminya lebih percaya beo daripada dirinya).
3.5  Ayah Burhan mengakui lebih menyayangi beo daripada istrinya (indeks: mama Burhan menangis suasana jadi hening kemudian barang-barang berjatuhan di lantai karena dibanting).
3.6  Mama Burhan memberi alternatif untuk memilih dirinya atau beo (indeks: Burhan kaget mendengar kata-kata mamanya).

4.      Burhan tidak lagi memiliki keluarga yang harmonis (indeks: tidak bisa makan bersama lagi) (inf. waktu pagi).
4.1  Burhan dan mamanya pergi meninggalkan rumah (indeks: rumah tempat ia dilahirkan).
4.2  Hak asuh anak jatuh pada mama Burhan dan ayahnya tidak dapat menggugatnya.
4.3  Cerita kisah Burhan pada Nila tetap membuat Nila lebih mencintai beonya (indeks: Nila berkata tanpa menoleh ke arah Burhan).
4.4  Burhan dan Nila duduk di taman kampus, tepatnya di atas bangku panjang (inf. waktu istirahat kuliah).
4.5  Nila meragukan cinta Burhan (indeks: Nila menatap Burhan dengan sorotan mata tajam dan memanggil nama lengkap Burhan dengan suara sinis).
4.6  Burhan tidak mengerti maksud Nila.
4.7  Nila menjelaskan bahwa Burhan hanya menginginkan kesenangan darinya yang tidak dapat diberikan Nila pada Burhan (indeks: menurut Nila, mencintai itu untuk mencari penderitaan yang akan disulap menjadi kesenangan).
4.8  Nila meninggalkan Burhan sendirian (Inf. setelah menjelaskan perasaannya pada Burhan) (indeks: perasaan Burhan tidak menentu).
4.9   Burhan sungguh-sungguh mencintai Nila (indeks: pertanyaan beruntung ada di kepala Burhan).
4.10          Burhan tertidur di bangku panjang di kampus (indeks: tertidur pulas).

5.      Burhan kaget Nila berkunjung ke rumahnya (inf. sore hari) (indeks: Burhan tidak mengerti alasan Nila datang ke rumah).
5.1  Nila memberitahu lewat telepon dengan tergesa-gesa ingin datang ke rumah Burhan (indeks: Nila cepat sekali datang dan mengetuk pintu).
5.2  Nila mengajak berbicara (indeks: Burhan menyanggupi dengan berganti pakaian).
5.3  Burhan mengajak Nila ke pantai agar dapat berbicara dengan bebas.
5.4  Nila menolak karena ia ingin mengajak Burhan berbicara di kamar Burhan saja (indeks: Burhan menuruti kemauan Nila).
5.5  Nila menjelaskan tentang cinta bukan hanya saling menyayangi, tetapi juga saling memberi kebahagiaan dan mengerti kegundahan masing-masing (indeks: diucapkan dengan suara parau dan Burhan hanya menatap tajam tanpa memberi tanggapan).
5.6  Bagi Nila burung beo memberi warna setelah kepergian ibunya (inf. sore hari) selalu menemaninya dengan suaranya yang parau dan sayu.
5.7  Beo menjadi ibu yang menimang-nimang anaknya saat masih bayi.
5.8  Kata-katanya (inf. di waktu sore) adalah kata-kata ibu Nila saat meninabobokkannya dan menyuap bubur (inf. dahulu ketika Nila kecil) (indeks: Burhan tetap tidak menyukai beo).
5.9  Nila tidak pernah bosan pada beo, seperti beo juga tidak bosan padanya untuk selalu menghibur Nila (inf. sore hari).
5.10          Nila bersenda gurau dengan beo (indeks: rindu Nila pada ibunya terobati).
5.11          Nila tidak dapat bersenda gurau lagi dengan beo (indeks: beonya telah mati).
5.12          Burhan meminta maaf pada Nila karena kematian beo.
5.13          Nila marah dan mengatakan bahwa Burhan tidak tahu (indeks: perasaan Nila) karena yang ada di pikiran Burhan hanya dirinya sendiri.
5.14          Nila berteriak lantang (indeks: Burhan kaget melihat meja belajarnya dibanting, buku, peralatan tulis berserakan, dan isi lemari berupa baju juga dikeluarkan oleh Nila).
5.15          Nila menyeret Burhan dan menghempaskan tubuh Burhan ke tempat tidur (indeks: Burhan terpelanting).
5.16          Nila menantang Burhan untuk melakukan apa yang diinginkan Burhan (indeks: Nila menanggalkan bajunya satu per satu ke lantai hingga tubuhnya terlihat jelas).
5.17          Burhan meminta maaf pada Nila (indeks: Burhan sadar ia telah melakukan kesalahan).

B.     Paradigma Cerita dalam Cerpen “Perempuan Beo”
Paradigma cerita meliputi indeks utama tokoh dan informan. Indeks utama tokoh dalam cerpen “Perempuan Beo” adalah indeks tokoh utama Burhanuddin sebagai tokoh utama dan tokoh Nila sebagai tokoh bawahan. Uraian indeks utama tokoh mencakup sifat-sifat tokoh, identitas, perasaan, ide, suasana, dan filsafat yang ada pada atau dimiliki oleh tokoh. Adapun informan terbatas pada informan waktu dan tempat yang berhubungan dengan peristiwa dan para tokohnya.
1.      Indeks Utama Tokoh Burhanuddin
a.       kekasih Nila
b.      sangat menyayangi Nila
c.       ingin selalu mengajak Nila ke pantai
d.      membenci beo karena beo itu membuat orang tuanya bercerai.
e.       membunuh beo, karena Nila lebih sayang beo daripada dirinya.

2.      Indeks Utama Tokoh Nila
a.       kekasih Burhan
b.      sangat menyayangi beo
c.       selalu menolak ajakan Burhan ke pantai
d.      lebih memilih merawat beo daripada Burhan jika mereka berdua sakit.
e.       marah karena mengetahui Burhan membunuh beo.

3.      Informan tentang Waktu
Waktu sore, saat sunset, soreku, satu sore, malam itu, malamku saat malam pengantin, sore itu, pada suatu waktu, besok, malam itu, jam kerja, sejak kejadian itu, sarapan pagi, waktu istirahat kampus, sore ini, sekarang.

4.      Informan tentang Tempat
Rumah Nila, di ruang tamu, di samping kolam kecil, di sofa, kamarku, rumahku, di lantai, rumah kelahiranku, di bangku panjang di taman kampus, di sana, di kamarmu, di tempat tidur.

Berdasarkan uraian mengenai sintagma dan paradigma cerita dalam cerpen “Perempuan Beo”, dapat diketahui bahwa cerpen “Perempuan Beo” memiliki alur kronologis yang diselingi dengan tarik balik atau back tracking. Teknik yang dipakai dalam tarik balik meliputi teknik mengenangkan masa dan dan menceritakan masa lalu.

 
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan uraian mengenai sintagma dan paradigma cerita dalam cerpen “Perempuan Beo”, dapat diketahui bahwa cerpen “Perempuan Beo” memiliki alur kronologis yang diselingi dengan tarik balik atau back tracking. Teknik yang dipakai dalam tarik balik meliputi teknik mengenangkan masa dan dan menceritakan masa lalu.

 
DAFTAR PUSTAKA

Jabrohim. 2011. Relasi Sintagmatik dan Paradigmatik Novel Wasripin & Satinah Karya Kuntowijoyo. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Gungsuma, Maltuf A. 2012. “Perempuan Beo”. Cerpen. Yogyakarta: Harian Minggu Pagi. Nomor 23 Tahun 1965, Edisi Minggu Kedua September 2012.

No comments:

Post a Comment