BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Kemajuan teknologi dan ilmu
pengetahuan juga diimbangi oleh kemajuan seni, terutama dalam sastra. Sastra
berhubungan erat dengan masyarakat, karena diciptakan oleh pengarang yang juga
anggota masyarakat. Menurut (Jabrohim, 2011), beragam makna yang tersaji dalam karya seni dapat
dimanfaatkan secara praktis dan pragmatis bagi kehidupan baik pada sifat yang
etis, terapis, kritis, maupun konseptualis.
Salah satu pemahaman makna pada sastra dapat dilakukan dengan memfokuskan
diri pada penelitian relasi sintagmatik dan paradigmatik. Oleh karena itu, sebagai
tugas Prosa Fiksi dan Drama I, penulis ingin meneliti cerpen “Perempuan Beo”
karya Maltuf A Gungsuma dengan mencari relasi sintagmatik dan paradigmatik,
berdasarkan teori yang diuraikan oleh Bapak Jabrohim.
B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam
makalah ini dapat dirumuskan sebagai berikut.
1. Bagaimanakah sintagma dalam cerpen
“Perempuan Beo”?
2. Bagaimanakah paradigma dalam cerpen
“Perempuan Beo”?
C. Tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Untuk mengetahui sintagma dalam cerpen
“Perempuan Beo”.
2. Untuk mengetahui paradigma cerita dalam
cerpen “Perempuan Beo”
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sintagma
dalam Cerpen “Perempuan Beo”
Sintagma cerita berupa urutan peristiwa yang ada dalam cerpen “Perempuan Beo”. Urutan
peristiwa yang dimaksud dibedakan menjadi dua yaitu plot dan fabula. Urutan peristiwa
dalam cerpen “Perempuan Beo” dapat
dijelaskan sebagai berikut ini.
1. Burhanuddin mengetahui bahwa Nila
menyayangi dirinya apa adanya
(indeks: Burhan mengetahui Nila juga sangat mencintai burung beonya).
1.1 Nila ingin menjadikan Burhan sebagai
ayah bagi anak-anaknya (indeks: Burhan juga ingin menjadikan Nila sebagai ibu
anak-anaknya).
1.2 Burhan cemburu dengan beo milik Nila
(Inf. Waktu sore Nila sering mengajak beonya bersenda gurau).
1.3 Burhan ingin mengajak Nila ke pantai
untuk melihat sunset (inf. Waktu sore
hari), tetapi Nila selalu menolak (indeks: Burhan merasa kesepian).
1.4 Burhan tidak suka melihat Nila lebih
mencintai beo (indeks: Burhan merasa dinomorduakan).
1.5 Burhan tidak mengerti dengan sikap Nila
(indeks: Burhan merasa Nila ingin Burhan memahami Nila, tetapi Nila tidak
memahami Burhan).
1.6 Burhan mengajak Nila untuk menemaninya
(inf. Suatu sore), tetapi Nila malah menawari Burhan untuk bermain dengan beo
kesayangannya (indeks: beo merupakan burung yang paling dibenci Burhan melebihi
Maya gadis yang pernah mengkhianati cintanya).
1.7 Burung beo menjadi biang kehancuran
keluarga Burhan (indeks: burung beo itu yang membuat ayah Burhan menceraikan
mamanya).
1.8 Burhan selalu teringat mata merah ayah
saat bertatapan dengan burung beo itu (indeks: Burhan ingin melupakan kejadian
pahit tentang hancurnya keluarga Burhan).
1.9 Burhan tidak dapat membayangkan malam
pertama dengan Nila bila Nila masih merawat beonya (indeks: Burhan teringat
masa lalu bila mendengar kicau beo).
2. Burhan mengetuk pintu Nila (inf. Sore
hari), seperti biasa Nila mempersilahkan Burhan masuk karena pintu tidak
dikunci (indeks: Burhan melihat Nila duduk dekat sangkar burung beo).
2.1 Burhan bertanya sampai kapan Nila akan
seperti itu (indeks: asyik dengan burung beonya terus).
2.2 Burhan mendengar jawaban Nila bahwa
sampai takdir memisahkan Nila dan beonya (inf. Nila sudah duduk di sofa yang
ada di ruang tamunya).
2.3 Burhan bertanya lagi apa istimewanya
burung itu bagi Nila (indeks: Burhan mencoba menenangkan gejolak dalam
hatinya).
2.4 Nila menjawab bahwa beo lebih istimewa
dibandingkan dengan Burhan yang hanya mengharap kesenangan saja (indeks: burung
beo memberi kebahagiaan bagi Nila dan juga beo itu tidak mengharapkan balasan
apapun darinya).
2.5 Nila ingin Burhan sedikit mengerti
dirinya (inf. Waktu sore).
2.6 Burhan sulit mengerti jalan pikiran Nila
(indeks: Burhan mendesah karena belum menemukan rumah cinta Nila untuknya dan
merasa cemas akan cintanya).
2.7 Burhan bertanya agar Nila memilih
dirinya atau beo ketika keduanya sakit (indeks: Burhan ingin tahu perasaan Nila
yang sesungguhnya).
2.8 Nila menjawab bahwa andai Burhan tidak
punya akal pikiran tentu ia akan merawat Burhan lebih dahulu karena Burhan
memiliki akal pikiran, maka ia lebih memilih merawat beo karena memiliki akal
pikiran berarti dapat menjaga diri (indeks: Nila mengerutkan dahi dan menatap
tajam Burhan).
2.9 Burhan mengerti jawaban Nila (indeks: Burhan
kaget dengan jawaban Nila, tangannya gemetar, wajahnya memerah).
2.10
Burhan
pamit untuk pulang dan ia menunggu Nila di tempat biasa (inf. Besok hari).
3. Burhan menyalahkan beo ketika ia masih
kecil (inf. Malam itu) (indeks: Burhan ingat pertengkaran ayah dan mamanya
gara-gara beo).
3.1 Burhan kecil berusaha mendengar dari
balik pintu pertengkaran orang tuanya.
3.2 Burhan mendengar ayahnya bertanya sambil
membentak mengenai laki-laki bernama Reno pada mamanya (indeks: bulu kuduk
Burhan merinding).
3.3 Ayah Burhan tidak percaya bahwa Reno
teman kerja mamanya karena menurut beo, Reno datang berkunjung ke rumah (inf.
saat jam kerja) tidak mungkin tanpa ada maksud tertentu.
3.4 Ayah Burhan tetap mempercayai beonya
(inf. beo itu menemani ayah Burhan sejak kecil), walaupun mama Burhan
memberitahu bahwa Reno datang bersama istrinya (indeks: mama Burhan kecewa
karena suaminya lebih percaya beo daripada dirinya).
3.5 Ayah Burhan mengakui lebih menyayangi
beo daripada istrinya (indeks: mama Burhan menangis suasana jadi hening
kemudian barang-barang berjatuhan di lantai karena dibanting).
3.6 Mama Burhan memberi alternatif untuk
memilih dirinya atau beo (indeks: Burhan kaget mendengar kata-kata mamanya).
4. Burhan tidak lagi memiliki keluarga yang
harmonis (indeks: tidak bisa makan bersama lagi) (inf. waktu pagi).
4.1 Burhan dan mamanya pergi meninggalkan
rumah (indeks: rumah tempat ia dilahirkan).
4.2 Hak asuh anak jatuh pada mama Burhan dan
ayahnya tidak dapat menggugatnya.
4.3 Cerita kisah Burhan pada Nila tetap
membuat Nila lebih mencintai beonya (indeks: Nila berkata tanpa menoleh ke arah
Burhan).
4.4 Burhan dan Nila duduk di taman kampus,
tepatnya di atas bangku panjang (inf. waktu istirahat kuliah).
4.5 Nila meragukan cinta Burhan (indeks:
Nila menatap Burhan dengan sorotan mata tajam dan memanggil nama lengkap Burhan
dengan suara sinis).
4.6 Burhan tidak mengerti maksud Nila.
4.7 Nila menjelaskan bahwa Burhan hanya
menginginkan kesenangan darinya yang tidak dapat diberikan Nila pada Burhan
(indeks: menurut Nila, mencintai itu untuk mencari penderitaan yang akan
disulap menjadi kesenangan).
4.8 Nila meninggalkan Burhan sendirian (Inf.
setelah menjelaskan perasaannya pada Burhan) (indeks: perasaan Burhan tidak
menentu).
4.9 Burhan
sungguh-sungguh mencintai Nila (indeks: pertanyaan beruntung ada di kepala
Burhan).
4.10
Burhan
tertidur di bangku panjang di kampus (indeks: tertidur pulas).
5. Burhan kaget Nila berkunjung ke rumahnya
(inf. sore hari) (indeks: Burhan tidak mengerti alasan Nila datang ke rumah).
5.1 Nila memberitahu lewat telepon dengan
tergesa-gesa ingin datang ke rumah Burhan (indeks: Nila cepat sekali datang dan
mengetuk pintu).
5.2 Nila mengajak berbicara (indeks: Burhan
menyanggupi dengan berganti pakaian).
5.3 Burhan mengajak Nila ke pantai agar
dapat berbicara dengan bebas.
5.4 Nila menolak karena ia ingin mengajak
Burhan berbicara di kamar Burhan saja (indeks: Burhan menuruti kemauan Nila).
5.5 Nila menjelaskan tentang cinta bukan
hanya saling menyayangi, tetapi juga saling memberi kebahagiaan dan mengerti
kegundahan masing-masing (indeks: diucapkan dengan suara parau dan Burhan hanya
menatap tajam tanpa memberi tanggapan).
5.6 Bagi Nila burung beo memberi warna
setelah kepergian ibunya (inf. sore hari) selalu menemaninya dengan suaranya
yang parau dan sayu.
5.7 Beo menjadi ibu yang menimang-nimang
anaknya saat masih bayi.
5.8 Kata-katanya (inf. di waktu sore) adalah
kata-kata ibu Nila saat meninabobokkannya dan menyuap bubur (inf. dahulu ketika
Nila kecil) (indeks: Burhan tetap tidak menyukai beo).
5.9 Nila tidak pernah bosan pada beo,
seperti beo juga tidak bosan padanya untuk selalu menghibur Nila (inf. sore
hari).
5.10
Nila
bersenda gurau dengan beo (indeks: rindu Nila pada ibunya terobati).
5.11
Nila
tidak dapat bersenda gurau lagi dengan beo (indeks: beonya telah mati).
5.12
Burhan
meminta maaf pada Nila karena kematian beo.
5.13
Nila
marah dan mengatakan bahwa Burhan tidak tahu (indeks: perasaan Nila) karena
yang ada di pikiran Burhan hanya dirinya sendiri.
5.14
Nila
berteriak lantang (indeks: Burhan kaget melihat meja belajarnya dibanting,
buku, peralatan tulis berserakan, dan isi lemari berupa baju juga dikeluarkan oleh
Nila).
5.15
Nila
menyeret Burhan dan menghempaskan tubuh Burhan ke tempat tidur (indeks: Burhan
terpelanting).
5.16
Nila
menantang Burhan untuk melakukan apa yang diinginkan Burhan (indeks: Nila
menanggalkan bajunya satu per satu ke lantai hingga tubuhnya terlihat jelas).
5.17
Burhan
meminta maaf pada Nila (indeks: Burhan sadar ia telah melakukan kesalahan).
B.
Paradigma Cerita dalam Cerpen “Perempuan
Beo”
Paradigma cerita meliputi indeks utama tokoh dan informan. Indeks utama
tokoh dalam cerpen “Perempuan Beo” adalah indeks tokoh utama Burhanuddin
sebagai tokoh utama dan tokoh Nila sebagai tokoh bawahan. Uraian indeks utama
tokoh mencakup sifat-sifat tokoh, identitas, perasaan, ide, suasana, dan
filsafat yang ada pada atau dimiliki oleh tokoh. Adapun informan terbatas pada
informan waktu dan tempat yang berhubungan dengan peristiwa dan para tokohnya.
1.
Indeks Utama Tokoh Burhanuddin
a. kekasih Nila
b. sangat menyayangi Nila
c. ingin selalu mengajak Nila ke pantai
d. membenci beo karena beo itu membuat
orang tuanya bercerai.
e. membunuh beo, karena Nila lebih sayang
beo daripada dirinya.
2. Indeks
Utama Tokoh Nila
a. kekasih Burhan
b. sangat menyayangi beo
c. selalu menolak ajakan Burhan ke pantai
d. lebih memilih merawat beo daripada
Burhan jika mereka berdua sakit.
e. marah karena mengetahui Burhan membunuh
beo.
3.
Informan tentang Waktu
Waktu sore, saat
sunset, soreku, satu sore, malam itu,
malamku saat malam pengantin, sore itu, pada suatu waktu, besok, malam itu, jam
kerja, sejak kejadian itu, sarapan pagi, waktu istirahat kampus, sore ini,
sekarang.
4.
Informan tentang Tempat
Rumah Nila, di
ruang tamu, di samping kolam kecil, di sofa, kamarku, rumahku, di lantai, rumah
kelahiranku, di bangku panjang di taman kampus, di sana, di kamarmu, di tempat
tidur.
Berdasarkan uraian mengenai sintagma dan paradigma cerita dalam cerpen
“Perempuan Beo”, dapat diketahui bahwa cerpen “Perempuan Beo” memiliki alur
kronologis yang diselingi dengan tarik balik atau back tracking. Teknik yang
dipakai dalam tarik balik meliputi teknik mengenangkan masa dan dan
menceritakan masa lalu.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan uraian mengenai sintagma dan paradigma cerita dalam cerpen
“Perempuan Beo”, dapat diketahui bahwa cerpen “Perempuan Beo” memiliki alur
kronologis yang diselingi dengan tarik balik atau back tracking. Teknik yang
dipakai dalam tarik balik meliputi teknik mengenangkan masa dan dan menceritakan
masa lalu.
DAFTAR PUSTAKA
Jabrohim.
2011. Relasi Sintagmatik dan Paradigmatik
Novel Wasripin & Satinah Karya Kuntowijoyo. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Gungsuma,
Maltuf A. 2012. “Perempuan Beo”. Cerpen.
Yogyakarta: Harian Minggu Pagi. Nomor
23 Tahun 1965, Edisi Minggu Kedua September 2012.
No comments:
Post a Comment