Tuesday, April 29, 2014

Akal dan Wahyu dalam Islam




Allah menganugerahkan hidayah kepada makhluknya dalam lima bentuk: hidayah al- wijdan atau hidayah al- ilham (insyink, naluri), hidayah al-hawas (indera), hidayah al-aql (akal rasio), hidayah al-wahyi (wahyu, agama), hidayah al-taufiq atau al ma’unah (pertolongan spontan dari Allah dan sesuainya kehendak Tuhan dan rencana manusia).
Hidayah al-wijdan merupakan
potrensi awal ciptaan Allah, hiodayah ini diberikan sejak lahir, seperti rasa lapar, ungkapan tangis, dll. Hidayah al-haas atau indera berupa penglihatan, pendengaran, rasa, merupakan potensi untuk melengkapi dan menyempurnakan dari apa yang dapat dicapai oleh instink. Hidayah al-aql merupakan akal rasio, hidayah ini hanya diberikan pada manusia, karena manusia diciptakan sebagai makhluk sosial dan mengemban tugas sebagai khalifah di bumi. Sedangkan hidayah al-wahyi atau hidayah al-adyan wa al-syara’i (agama dan syariah). Agama berfungsi untuk menundukkan jiwa manusia agar mampu mengendalikan hawa nafsunya, dan dapat memilah serta memilih mana yang haq dan mana yang bathil. Bagi manusia yang patuh pada agamanya, atau bagi mereka yang memperoleh wahyu ini, mereka akan memperoleh rasyad (bimbingan) untuk membimbing akal rasionya yang kadang-kadang mengalami kekacauan. Kemudian petunjuk terakhir berupa hidayah al-taufiq atau al-ma’unah, yakni, pertolongan spontan dari Allah, hanya diberikan pada orang-orang yang telah menjalankan agamanya dengan benar.
1.      Hakekat dan fungsi akal
Akal berasal dari bahasa arab: aqala-ya’qilu, aqala memiliki arti adraka (mencapai, mengetahui,), fahima, memahami), tadabbara wa tafakkara ( merenung dan berfikir). Kata al-aqlu sebagai mashdar (akar kata) juga memiliki arti nurun ruhaniyyun bihi tudriku al-nafsu ma la tudrikuhubi al-hawas, yaitu cahaya nurani yang dengannya seseorang dapat mencapai sesuatu yang tidak dapat dicapai oleh indera. Al-aql juga diartikan dengan al-qalb, hati nurani atau hati sanubari.
Pengertian akal adalah: daya terdapat yang terdapat pada jiwa manusia, daya yang dimiliki manusia untuk memperoleh pengetahuan dengan memperhatikan alam sekitarnya. Akal dapat dipahami sebagai daya rohaniyang ada pada diri manusia yang berguna untuk memahami kebenaran, baik fisik maupun metafisik, yang mutlak maupun bersifat relatif.
2.      Isyarat Al- Qur’an tentang akal dan kegiatannya
Kata akal juga dijelaskan dalam beberapa ayat dalam Al-Qur’an, misalnya: QS. Al-Hajj: 46, Al BAqarah: 242, Al-Mulk: 10, Al-Ankabut: 43. dari beberapa ayat dalam Al-Qur’an tersebut, kita dapat menangkap beberapa makna, al:
a.       Kata akal diartikan dengan memahami, menegrti, berfikir, memikirkan dan merenungkan.
b.      Dorongan dan bahkan keharusan manusia untuk menggunakan akal, pikiran, pemahaman, perenungan, dalam menghadapi dan memecahkan berbagai persoalan.
c.       Martabat manusia ditentukan oleh penggunaan akal pikirannya dalam menghadapi sesuatu.
d.      Akal merupakan kunci untuk mendapatkan pengetahuan, baik pengaetahuan yang bersumber dari fenomena penciptaan (al-ayat kauniyah) maupun wahyu ( al-ayat kauliyah).
Kata kunci lain yang berhubungan dengan akal adalah: al-qalb, faqiha, tafaqqaha, tafakkara, tadabbara, tazakkara, ‘alima dan nazhara. Al-qalb: akal budi, nurani atau hati sanubari. Faqiha yalqahu atau tafaqqaha- yatafaqahu: memahami, mengerti dan mendalami sesuatu. Tadabbara- yatadabbaru: merenung, memperhatikan, meneliti, mengambil suatu pelajaran ata suatu peristiwa ataupun kejadian. Tazakkara- yatazakkaru (yazakkaru): mengambil pelajaran, menangkap pesan atau risalah. ‘Alima-ya’lamu: mengetahui, memahami, berilmu pengetahuan. Nazhara-yanzuru:melihat,memperhatikan, meneliti.
3.      Mekanisme, sistem dan nilai kerja akal dalam menuai keberanan.
Akal sebagai daya berfikir yang terdapat dalam jiwa manusia, daya yang dimiliki manusia untuk memperoleh pengetahuan. Batas-batas kodrati bersifat tetap, dan batas-batas pertumbuhan bersifat dinamis, sejalan dengan proses pengalaman hidupnya hingga sampai batas akhir yang tetap, yaitu saat kematian. Dalam hubungannya dalam pemikirna alam, Al- Qur’an menganjurkan pada manusia agar memperhatikan proses penciptaannya. Dalam proses penciptaan tersebut, terkandung prinsip- prinsip kebenaran dan ukuran-ukurannya.
Sementara dari objek Al-Qur’an, manusia akan memperolah wawasan batini yang akan menuntunnya kejalan yang lurus. Al-Qur’an memberikan pedoman dan tuntunan moral bagi manusia. Dari mekanisme yang telah diuraika di atas, maka nilai keberan akal bersifat relative juga particular dan tentative, karena pengalaman hidup manusia berkembang dan mempengruhi tahapan-tahapan pertumbuhan pikiran dan qalbu manusia dalam menggapai kebenaran. Oleh karena itukebenaran dan segala hasil yang dicapai oleh akal selalu ada perubahan, perkembangan, dan penyerpurnaan.
4.      Kedudukan dan fungsi akal dalam memahami Islam.
Akal merupakan barometer bagi keberadaan manusia. Untuk itulah Al- Qur’an memberikan tuntunan tentang pengguanaan akal dengan mengadakan pembagian tugas dan wilayah kerja pikiran dan Qalbu. Daya pikir manusia manjangkau wilayah fisik  dan masalah- masalah yang reltif, sedangkan qalbu memiliki ketajaman untuk menangkap makna-makna yang metafisikndan mutlak. Oleh karenanya, akal memiliki fungsi dan kedudukan sebagai berikut:
1.      Akal sebagai alat strategis untuk menangkap dan mengetahui kebenaran yang terkandung dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasul.
2.      Akal merupakan potensi yang melekat pada diri manusia untuk mengetahui  maksud- maksud dalam Al- Qur’an.
3.      Akal sebagai acuan untuk menangkap pesan dan semnagat Al-Qur’an dan sunnah dalam memecahkan masalah-masalah manusia dan sebagai bentuk ijtihad.
4.      Akal akan menjabarkan pesan-pesan  Al-Qur’an dan sunnah, dalam kaitannya dengan fungsi manusia sebagai khalifah Allah, untuk mengelola dan memakmurkan bumu dan seisinya..
Namun, bagaimanapun juga, hasil akhir pencapaian akal tetaplah relative dan tentative. Untuk itu diperlukan adanya koreksi, perubahan dan penyempurnaan terus-menerus.
5.      Optimalisasi fungsi akal
Akal sebagai daya rohani memiliki kebebasan penuh, sehingga tidak ada satu kekuatan pun yang bisa menghalangi akal bekerja. Akal yang dalam kaitannya melibatkan fikiran dan qalb, akan selalu berkaitan dengan fakir dn dzikir. Akal yang tidak berfungsi menjadikan qalb manusia tertutup, sehingga manusia kehilangan kekuatan dan kemampuannya untuk memahami kebenaran.
Tanggapan:
Semua hidayah yang diciptakan oleh Allah dan dianugerahkan kepada manusia, berfungsi untuk memilih mana yang haq dan mana yang bathil. Memiliki tujuan dan fungsi masing-masing. Sedangkan agama berfungsi untuk menundukkan jiwa manusia untuk mengendalikan hawa nafsunya, untuk dapat memilah mana yang haq dan mana yang bathil.  Allah telah menganugerahkan bermacam-macam hidayah kepada manusia dengan tujuan untuk membimbing manusia dalam kehidupannya. Semua yang menyangkut tentang hakekat, fungsi, dan segala sesuatu yang terkait dengan akal, semua tercakup dalam Al-Qur’an dan sunnah. Semua berfungsi untuk menuntun manusia, mengarahkan manusia, untuk memecahkn segala masalah- masalahnya dalam kehidupnnya.




























No comments:

Post a Comment