Allah menganugerahkan hidayah kepada makhluknya dalam
lima bentuk: hidayah al- wijdan atau hidayah al- ilham (insyink, naluri),
hidayah al-hawas (indera), hidayah al-aql (akal rasio), hidayah al-wahyi
(wahyu, agama), hidayah al-taufiq atau al ma’unah (pertolongan spontan dari
Allah dan sesuainya kehendak Tuhan dan rencana manusia).
Hidayah al-wijdan merupakan
potrensi awal ciptaan Allah, hiodayah ini diberikan sejak lahir, seperti rasa lapar, ungkapan tangis, dll. Hidayah al-haas atau indera berupa penglihatan, pendengaran, rasa, merupakan potensi untuk melengkapi dan menyempurnakan dari apa yang dapat dicapai oleh instink. Hidayah al-aql merupakan akal rasio, hidayah ini hanya diberikan pada manusia, karena manusia diciptakan sebagai makhluk sosial dan mengemban tugas sebagai khalifah di bumi. Sedangkan hidayah al-wahyi atau hidayah al-adyan wa al-syara’i (agama dan syariah). Agama berfungsi untuk menundukkan jiwa manusia agar mampu mengendalikan hawa nafsunya, dan dapat memilah serta memilih mana yang haq dan mana yang bathil. Bagi manusia yang patuh pada agamanya, atau bagi mereka yang memperoleh wahyu ini, mereka akan memperoleh rasyad (bimbingan) untuk membimbing akal rasionya yang kadang-kadang mengalami kekacauan. Kemudian petunjuk terakhir berupa hidayah al-taufiq atau al-ma’unah, yakni, pertolongan spontan dari Allah, hanya diberikan pada orang-orang yang telah menjalankan agamanya dengan benar.
potrensi awal ciptaan Allah, hiodayah ini diberikan sejak lahir, seperti rasa lapar, ungkapan tangis, dll. Hidayah al-haas atau indera berupa penglihatan, pendengaran, rasa, merupakan potensi untuk melengkapi dan menyempurnakan dari apa yang dapat dicapai oleh instink. Hidayah al-aql merupakan akal rasio, hidayah ini hanya diberikan pada manusia, karena manusia diciptakan sebagai makhluk sosial dan mengemban tugas sebagai khalifah di bumi. Sedangkan hidayah al-wahyi atau hidayah al-adyan wa al-syara’i (agama dan syariah). Agama berfungsi untuk menundukkan jiwa manusia agar mampu mengendalikan hawa nafsunya, dan dapat memilah serta memilih mana yang haq dan mana yang bathil. Bagi manusia yang patuh pada agamanya, atau bagi mereka yang memperoleh wahyu ini, mereka akan memperoleh rasyad (bimbingan) untuk membimbing akal rasionya yang kadang-kadang mengalami kekacauan. Kemudian petunjuk terakhir berupa hidayah al-taufiq atau al-ma’unah, yakni, pertolongan spontan dari Allah, hanya diberikan pada orang-orang yang telah menjalankan agamanya dengan benar.
1.
Hakekat dan fungsi akal
Akal berasal dari bahasa arab:
aqala-ya’qilu, aqala memiliki arti adraka (mencapai, mengetahui,), fahima,
memahami), tadabbara wa tafakkara ( merenung dan berfikir). Kata al-aqlu
sebagai mashdar (akar kata) juga memiliki arti nurun ruhaniyyun bihi tudriku
al-nafsu ma la tudrikuhubi al-hawas, yaitu cahaya nurani yang dengannya
seseorang dapat mencapai sesuatu yang tidak dapat dicapai oleh indera. Al-aql
juga diartikan dengan al-qalb, hati nurani atau hati sanubari.
Pengertian akal
adalah: daya terdapat yang terdapat pada jiwa manusia, daya yang dimiliki
manusia untuk memperoleh pengetahuan dengan memperhatikan alam sekitarnya. Akal
dapat dipahami sebagai daya rohaniyang ada pada diri manusia yang berguna untuk
memahami kebenaran, baik fisik maupun metafisik, yang mutlak maupun bersifat
relatif.
2.
Isyarat Al- Qur’an tentang akal
dan kegiatannya
Kata akal juga dijelaskan dalam
beberapa ayat dalam Al-Qur’an, misalnya: QS. Al-Hajj: 46, Al BAqarah: 242,
Al-Mulk: 10, Al-Ankabut: 43. dari beberapa ayat dalam Al-Qur’an tersebut, kita
dapat menangkap beberapa makna, al:
a.
Kata akal diartikan dengan
memahami, menegrti, berfikir, memikirkan dan merenungkan.
b.
Dorongan dan bahkan keharusan
manusia untuk menggunakan akal, pikiran, pemahaman, perenungan, dalam
menghadapi dan memecahkan berbagai persoalan.
c.
Martabat manusia ditentukan
oleh penggunaan akal pikirannya dalam menghadapi sesuatu.
d.
Akal merupakan kunci untuk
mendapatkan pengetahuan, baik pengaetahuan yang bersumber dari fenomena
penciptaan (al-ayat kauniyah) maupun wahyu ( al-ayat kauliyah).
Kata kunci lain yang berhubungan dengan
akal adalah: al-qalb, faqiha, tafaqqaha, tafakkara, tadabbara, tazakkara,
‘alima dan nazhara. Al-qalb: akal budi, nurani atau hati sanubari. Faqiha
yalqahu atau tafaqqaha- yatafaqahu: memahami, mengerti dan mendalami sesuatu.
Tadabbara- yatadabbaru: merenung, memperhatikan, meneliti, mengambil suatu
pelajaran ata suatu peristiwa ataupun kejadian. Tazakkara- yatazakkaru
(yazakkaru): mengambil pelajaran, menangkap pesan atau risalah. ‘Alima-ya’lamu:
mengetahui, memahami, berilmu pengetahuan. Nazhara-yanzuru:melihat,memperhatikan,
meneliti.
3.
Mekanisme, sistem dan nilai
kerja akal dalam menuai keberanan.
Akal sebagai daya berfikir yang
terdapat dalam jiwa manusia, daya yang dimiliki manusia untuk memperoleh
pengetahuan. Batas-batas kodrati bersifat tetap, dan batas-batas pertumbuhan
bersifat dinamis, sejalan dengan proses pengalaman hidupnya hingga sampai batas
akhir yang tetap, yaitu saat kematian. Dalam hubungannya dalam pemikirna alam,
Al- Qur’an menganjurkan pada manusia agar memperhatikan proses penciptaannya.
Dalam proses penciptaan tersebut, terkandung prinsip- prinsip kebenaran dan
ukuran-ukurannya.
Sementara dari objek Al-Qur’an,
manusia akan memperolah wawasan batini yang akan menuntunnya kejalan yang
lurus. Al-Qur’an memberikan pedoman dan tuntunan moral bagi manusia. Dari
mekanisme yang telah diuraika di atas, maka nilai keberan akal bersifat
relative juga particular dan tentative, karena pengalaman hidup manusia
berkembang dan mempengruhi tahapan-tahapan pertumbuhan pikiran dan qalbu
manusia dalam menggapai kebenaran. Oleh karena itukebenaran dan segala hasil
yang dicapai oleh akal selalu ada perubahan, perkembangan, dan penyerpurnaan.
4.
Kedudukan dan fungsi akal dalam
memahami Islam.
Akal merupakan barometer bagi
keberadaan manusia. Untuk itulah Al- Qur’an memberikan tuntunan tentang
pengguanaan akal dengan mengadakan pembagian tugas dan wilayah kerja pikiran
dan Qalbu. Daya pikir manusia manjangkau wilayah fisik dan masalah- masalah yang reltif, sedangkan
qalbu memiliki ketajaman untuk menangkap makna-makna yang metafisikndan mutlak.
Oleh karenanya, akal memiliki fungsi dan kedudukan sebagai berikut:
1.
Akal sebagai alat strategis
untuk menangkap dan mengetahui kebenaran yang terkandung dalam Al-Qur’an dan
sunnah Rasul.
2.
Akal merupakan potensi yang melekat
pada diri manusia untuk mengetahui
maksud- maksud dalam Al- Qur’an.
3.
Akal sebagai acuan untuk
menangkap pesan dan semnagat Al-Qur’an dan sunnah dalam memecahkan
masalah-masalah manusia dan sebagai bentuk ijtihad.
4.
Akal akan menjabarkan
pesan-pesan Al-Qur’an dan sunnah, dalam
kaitannya dengan fungsi manusia sebagai khalifah Allah, untuk mengelola dan
memakmurkan bumu dan seisinya..
Namun, bagaimanapun juga, hasil akhir pencapaian akal
tetaplah relative dan tentative. Untuk itu diperlukan adanya koreksi, perubahan
dan penyempurnaan terus-menerus.
5.
Optimalisasi fungsi akal
Akal sebagai
daya rohani memiliki kebebasan penuh, sehingga tidak ada satu kekuatan pun yang
bisa menghalangi akal bekerja. Akal yang dalam kaitannya melibatkan fikiran dan
qalb, akan selalu berkaitan dengan fakir dn dzikir. Akal yang tidak berfungsi
menjadikan qalb manusia tertutup, sehingga manusia kehilangan kekuatan dan
kemampuannya untuk memahami kebenaran.
Tanggapan:
Semua hidayah yang diciptakan oleh
Allah dan dianugerahkan kepada manusia, berfungsi untuk memilih mana yang haq
dan mana yang bathil. Memiliki tujuan dan fungsi masing-masing. Sedangkan agama
berfungsi untuk menundukkan jiwa manusia untuk mengendalikan hawa nafsunya,
untuk dapat memilah mana yang haq dan mana yang bathil. Allah telah menganugerahkan bermacam-macam
hidayah kepada manusia dengan tujuan untuk membimbing manusia dalam
kehidupannya. Semua yang menyangkut tentang hakekat, fungsi, dan segala sesuatu
yang terkait dengan akal, semua tercakup dalam Al-Qur’an dan sunnah. Semua
berfungsi untuk menuntun manusia, mengarahkan manusia, untuk memecahkn segala
masalah- masalahnya dalam kehidupnnya.
No comments:
Post a Comment